Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Gantikan Biksu Thudong, 50 Bhante Berjalan Kaki dari Bali ke Candi Borobudur

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Jumat, 15 Mei 2026 | 21:42 WIB
Jelang perayaan Tri Suci Waisak akan digelar Indonesia Walk For Peace menggantikan Biksu Thudong.
Jelang perayaan Tri Suci Waisak akan digelar Indonesia Walk For Peace menggantikan Biksu Thudong.

 

RADARMAGELANG.ID, MungkidBerbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan Tri Suci Waisak 2570/2026 mendatang tidak ada momen Thudong atau para biksu berjalan dari Thailand menuju Candi Borobudur.

Sebagai gantinya, panitia Waisak 2026 menghelat Indonesia Walk For Peace.

Acara ini menjadi rangkaian baru dalam perayaan Tri Suci Waisak tahun ini. 

Sebanyak 50 bhante berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur.

Pembina acara Indonesia Walk For Peace 2026 Romo Wawan menjelaskan, penyebab acara Thudong tidak bisa terlaksana, salah satunya karena tahun ini bersamaan dengan acara yang digelar oleh Raja Malaysia.

“Sehingga komunitas Buddha di Malaysia tidak bisa membantu dalam pelaksanaan Thudong,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Ia mengaku, dalam pelaksanaan Thudong ini pihaknya tidak bisa bergerak sendiri.

Termasuk untuk jalur-jalurnya.

“Informasi yang kami terima, tahun ini teman-teman saya di Malaysia mengikuti Young Buddhist Asatan Waisak selama satu bulan. Jadi, mereka tidak bisa membantu mengawal acara Thudong tahun ini. Tapi untuk tahun 2027, teman-teman bisa membantu,” jelas Romo Wawan.

Sehingga untuk Waisak 2026 ini, pihaknya mencoba membuat konsep baru, yakni Indonesia Walk For Peace 2026 yang mengambil start dari Brahmavihara Arama Buleleng Bali pada 9 Mei 2026 lalu, dan dijadwalkan sampai Candi Borobudur pada 28 Mei 2026.

Romo Wawan mengungkapkan, pemilihan walk for peace terinspirasi dari para Bhante di Amerika Serikat.

Apalagi dari makna Thudong sendiri, yakni berjalan atau perjalanan ritual.  

“Ini sebuah perjalanan dengan tujuan menggelorakan perdamaian,” katanya.

Ia menerangkan, para bhante yang berjumlah 50 orang ditambah satu umat Buddha dari Thailand berkumpul di Bali pada 7 Mei lalu.

Kemudian, mereka memulai perjalanan pada Sabtu (9/5) lalu.

"Tanggal 9 Mei, pagi-pagi kita makan pagi, setelah itu baru pelepasan. Dilepas oleh Pak Dirjen Bimas Agama Buddha, Pak Supriyadi bersama Bupati Buleleng dan bupati daerah Singaraja ," jelas Wawan.

Setelah itu, perjalanan dengan finish di Vihara Empu Astapaka, pada Minggu (10/5) lalu.

Di vihara tersebut, para bhante beristirahat dan keesokan harinya perjalanan dari vihara menuju pelabuhan untuk melakukan penyeberangan dengan kapal feri, Senin (11/5).

"Saat di Selat Bali, kita melakukan pembacaan paritta untuk para korban tragedi yang meninggal di Selat Bali. Jadi, kita tabur bunga dan baca paritta," bebernya.

Sampai Ketapang Banyuwangi, para bhante naik bus untuk mengejar waktu makan siang. 

“Kita naik bus kurang lebih sejauh 10 km sebelum TITD Banyuwangi. Di sana disambut oleh Ibu Bupati Banyuwangi," lanjut Wawan.

Selain itu, tambah dia, untuk rute yang diambil tahun ini, sebelum sampai Candi Borobudur, para bhante akan berkunjung dan bermalam di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan, Kabupaten Magelang.

“Dan tanggal 28 Mei kita sudah finish di Candi Borobudur," imbuh Wawan.

Misi yang dibawa kali ini, kata Wawan, tetap sama seperti pada 2023, yakni perdamaian dan toleransi antarumat beragama. (rfk/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#bali #candi borobudur #Thudong #Bhante Wawan Kantadhammo #biksu