Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Sebelum Aba-Aba 7 Gunungan Ketupat Ludes Digerebeg Warga Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • 2026-03-29 16:59:43
Gunungan ketupat dikirab dari Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) An-Nuur Kabupaten Magelang, sampai di Lapangan Drh Soepardi, Sawitan, Sabtu (28/3/2026).
Gunungan ketupat dikirab dari Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) An-Nuur Kabupaten Magelang, sampai di Lapangan Drh Soepardi, Sawitan, Sabtu (28/3/2026).

RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Belum ada  aba-aba dari pemandu acara, tujuh gunungan ketupat yang berisi uang langsung habis diserbu masyarakat pada Grebeg Ketupat 2026 di Lapangan drh. Soepardi, Mungkid, Sabtu (28/3) kemarin.

Padahal, tujuh gunungan seharusnya belum untuk diperebutkan. Karena masih dalam rangkaian seremonial dan menunggu Bupati Magelang memberikan sambutan.

Di samping itu,  forkopimda  akan memberikan tambahan ketupat agar bisa ikut diperebutkan dalam satu momen perebutan tujuh gunungan ketupat tersebut.

Namun, di tengah-tengah acara seremonial tanpa aba-aba tujuh gunungan ketupat berisi uang tersebut langsung diserbu  masyarakat.

 Rangkaian Grebeg Kupat 2026 diawali dengan kirab tujuh gunungan ketupat dari Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) An-Nuur Kabupaten Magelang. Kirab ini diikuti Bupati Magelang Grengseng Pamuji, Wakil Bupati Magelang Sahid beserta forkopimda.

Pukul 09.47, rombongan kirab tujuh gunungan kupat tiba di Lapangan Drh Soepardi, Sawitan.

Dilanjutkan dengan persembahan tarian serta permohonan maaf dari perwakilan warga kepada Bupati Magelang.

Usai ikrar permohonan maaf, tanpa ada aba-aba warga terus merangsek berebut gunungan.

Dalam sekejap tujuh gunungan kupat yang berisi uang tunai ludes. Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, Grebeg Kupat kali ini merupakan festival yang kedua dilaksanakan. 

Acara ini merupakan bentuk hubungan antara pemerintah daerah dengan masyarakat untuk menyatu, menjadi satu kesatuan dalam rangka untuk mewujudkan visi misi Kabupaten Magelang. 

“Dari sisi filosofis kupat ini sudah menjadi tradisi kita bahwa di bulan Idul Fitri semuanya menjadi berintrospeksi, ngaku lepat (mengaku bersalah).

Menjadi salah satu modal kita bahwa pemerintah daerah juga harus mengaku lepat untuk menjadi modal menuju pembangunan yang akan datang,” kata Grengseng.

Perihal rebutan tujuh gunungan kupat sebelum aba-aba, kata Grengseng, panitia nantinya perlu memperbaiki tata kelolanya. Agar ke depan acara bisa lebih tertib.

 “Karena kalau misalnya belum sesuai dengan tatanan atau tata kelola yang dilakukan atau di-guidance oleh panitia, takutnya nanti ada masyarakat terinjak atau apa. Kan itu sudah diukur semuanya,” lanjut Grengseng.

“Kapan itu diambil, kapan masyarakat harus menggerebek agar semuanya aman. Kalau seperti ini (berebut duluan) berarti ke depan perlu dievaluasi kembali.

Biar  panitia mengevaluasi tata kelolanya agar ke depan lebih aman, masyarakat lebih nyaman, lebih antusias dan merasakan dampaknya,” ujarnya

Grengseng menjelaskan, jumlah tujuh gunungan yang dihadirkan merupakan presentasi tradisi Jawa yang melambangkan pertolongan, petunjuk, dan nasihat kebaikan.

“Dari tujuh gunungan itu, harapannya Kabupaten Magelang selalu mendapat berkah serta dalam menjalankan pemerintahan kami diberikan pertolongan dan petunjuk,” jelasnya. (rfk/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#gerebeg ketupat #7 gunungan ludes #Lapangan drh Soepardi #Bupati Magelang Grengseng Pamuji