RADARMAGELANG.ID, Mungkid- Sejumlah santri dan remaja tampak antusias mengikuti acara diskusi dan bedah buku Tipologi Anak Muda Indonesia "Membaca Arah Generasi Muda di Era Algoritma" yang digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Inayah, Sidoagung, Kecamatan Tempuran, pada Sabtu (14/3/2006).
Sambil menunggu buka puasa, acara yang dihadiri oleh anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo, Kakanwil Kemenag Jateng, Saiful Mujab, jajaran Kemenag Kabupaten Magelang, guru serta pelajar sekolah di bawah naungan Kemenag ini tampak berjalan lancar.
Bahkan, para pelajar yang hadir tampak antusias mendengarkan setiap detail penjelasan dari Hasanuddin Ali.
Wibowo Prasetyo mengatakan buku karya Hasanuddin Ali itu menjadi ruang refleksi penting untuk memahami dinamika generasi muda Indonesia di tengah perubahan sosial yang dipicu oleh perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, kehadiran buku itu sangat relevan dengan situasi saat ini.
Yakni, ketika masyarakat tengah menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat akibat revolusi digital dan dominasi algoritma dalam kehidupan sehari-hari.
“Generasi muda Indonesia kini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Di mana ruang digital memainkan peran besar dalam membentuk cara berpikir, cara berinteraksi, hingga cara mereka memandang masa depan,” katanya.
Dia menyebut, algoritma media sosial dan derasnya arus informasi telah membentuk lanskap baru dalam pembentukan identitas dan aspirasi anak muda.
Terkait hal itu, buku tersebut dipandang penting karena berupaya memetakan keragaman karakter, nilai, serta perilaku generasi muda Indonesia melalui pendekatan tipologi yang komprehensif.
Wibowo menilai, buku Tipologi Anak Muda Indonesia tidak hanya menggambarkan pola perilaku anak muda.
Tetapi juga memberikan perspektif penting untuk memahami dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang akan membentuk masa depan Indonesia.
Pemahaman tersebut dinilai penting bagi para pengambil kebijakan, kalangan akademisi, dunia pendidikan, hingga organisasi masyarakat yang selama ini berinteraksi langsung dengan generasi muda.
"Dengan diskusi dan bedah buku ini, diharapkan bisa menjadi ruang pembacaan akademik terhadap sebuah karya, melahirkan gagasan, serta rekomendasi konstruktif dalam merespons perubahan sosial yang terjadi," ujarnya.
"Para peserta diharapkan dapat memperkaya perspektif bersama dalam membaca arah generasi muda Indonesia. Sekaligus memperkuat komitmen untuk menyiapkan generasi yang mampu menghadapi dinamika masa depan di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat," sambungnya.
Sementara itu, penulis buku Tipologi Anak Muda Indonesia, Hasanuddin Ali menyebut bahwa mayoritas penduduk Indonesia saat ini adalah anak muda.
“Kadang karena sangat banyaknya anak muda, sehingga kita menganggap anak muda itu sama semua. Tapi kemudian setelah kami melakukan riset, ternyata menemukan anak muda itu bermacam-macam dan ketemu tiga tipologi anak muda,” tuturnya.
Dia menjelaskan, tiga tipologi anak muda Indonesia yaitu Si Paling Eksis (The Sosial Butterfly), Si Digital Banget (The Digital Junkie), dan Si Santuy Abis (The Chillaxer).
Hasanuddin menilai sangat penting untuk memahami tiga tipologi itu.
Tidak hanya anak muda, orang tua, tapi juga untuk pendidikan, negara, atau juga bagi dunia bisnis.
“Karena dengan mengenali tiga tipologi itu, maka rekomendasi atau strategi komunikasi, strategi kebijakan lebih pas untuk anak muda dengan tipologi tertentu,” pungkasnya. (rfk/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo