R
Hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat mengguyur hampir seluruh kecamatan sejak 2 Maret lalu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengidentifikasi tumbuhnya Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah yang memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah Jawa, termasuk Magelang.
Data BPBD Kabupaten Magelang mencatat beberapa kejadian tanah longsor, seperti di Sawangan, Salaman, Pakis, Dukun, dan Kajoran. Material longsor sempat menutup akses jalan penghubung antar dusun, meski berhasil dibuka kembali melalui kerja bakti dan alat berat.
Di wilayah Dukun, Muntilan, dan Mungkid, terjadi luapan air di beberapa aliran sungai akibat adanya banjir lahar hujan yang terjadi di hulu sungai daerah Gunung Merapi, khususnya yang terhubung dengan Sungai Senowo. Beberapa wilayah juga dilaporkan adanya genangan air yang merendam permukiman dengan ketinggian bervariasi.
Melihat eskalasi kejadian dan mempertimbangkan prakiraan cuaca yang masih berpotensi hujan lebat hingga 8 Maret 2026, Pemerintah Kabupaten Magelang menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi. Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Tanggap Darurat tertanggal 3-9 Maret 2026. Status ini diberlakukan guna mempercepat mobilisasi sumber daya, memudahkan koordinasi lintas sektor, serta memastikan kebutuhan dasar warga terdampak dapat segera terpenuhi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Bambang Hermanto menyampaikan, penetapan status tanggap darurat dilakukan karena sejumlah indikator telah terpenuhi. Di antaranya, adanya korban jiwa, kerugian harta benda masyarakat, kerusakan prasarana dan sarana fasilitas umum, serta luasnya wilayah yang terdampak bencana.
Selama masa tanggap darurat, BPBD Kabupaten Magelang bersama Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan berbagai OPD terkait melakukan asesmen cepat, distribusi logistik, serta penanganan darurat di lokasi terdampak. Warga yang rumahnya terancam longsor diimbau mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman, terutama saat hujan deras turun pada malam hari.
Ia berharap, dengan status ini dapat membuka pintu seluas-luasnya untuk penguatan secara bantuan penganggaran, sumber daya, dan support lainnya. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai, namun tetap tenang akan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan longsor dengan menjauhi bantaran sungai serta menghindari aktivitas di lereng rawan longsor.
"Selain itu, masyarakat diharapkan untuk tidak beraktivitas di luar ruangan saat terjadi hujan disertai kilat petir dan angin kencang, hujan es serta menghindari tempat-tempat terbuka, pohon besar, baliho, atau tiang listrik yang berpotensi roboh," pesannya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto