Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Haksoro Sebut Menu MBG Ora Mbejaji, Bupati Magelang Grengseng Pamuji Sampaikan Keluhan Warga ke Badan Gizi Nasional

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Kamis, 26 Februari 2026 | 21:10 WIB

Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyampaikan hasil koordinasi dengan BGN, Kamis (26/2/2026).
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyampaikan hasil koordinasi dengan BGN, Kamis (26/2/2026).

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan menuai banyak sorotan.

Tak hanya nominal yang dipertanyakan, tapi juga kandungan gizinya yang dinilai kurang.

Haksoro, 45, warga Sawangan mengaku, menu kering yang diberikan selama bulan puasa benar-benar jauh dari ekspektasi dan harapan para orang tua siswa.

“Misalnya MBG yang diterima anak saya pada Senin (23/2/2026) lalu berupa roti, susu UHT, dan pisang saja. Hari kedua, Selasa (24/2/2026), kurma 3 biji, 2 telur rebus, dan roti tawar. Lalu, pada Rabu (25/2/2026) mosok menunya kentang Mustofa. Kentang dipotong-potong, diiris kecil-kecil ditambah 5 butir telur puyuh dan sebutir buah jeruk,” ujarnya.

Menurutnya, ini sudah jauh dari namanya makan bergizi.

Mengingat, kandungan gizi dalam menu makanan tersebut, menurutnya, jauh dari kata bergizi.

“Okelah mereka (SPPG) berasumsi bahwa itu menu kecil buat anak-anak. Tapi kandungan gizinya nggak masuk akal. Memang benar kentang ada karbohidratnya, tapi kalau sudah digoreng berarti lebih banyak lemaknya ketimbang karbohidrat. Juga telur puyuh itu kan kolesterol tinggi. Jadi, gizi apa yang ingin diberikan ke anak?” kata Haksoro heran.

Ia pun mempertanyakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan MBG, apakah hanya mengejar anggarannya atau memang memperhitungkan kandungan gizinya? 

“Kalau kandungan gizinya kan nggak masuk kalau segitu. Kandungan gizi yang dimaksudkan dengan Makan Bergizi Gratis itu kan ada bergizinya,” ucap dia.

“Kenapa memaksa Rp 8 ribu dengan menu yang ora mbejaji (tidak layak). Menurutku, menunya asal-asalan. Jadi, harapan kami ada perbaikan,” tambahnya.

Hal sama disampaikan Yusuf, warga Kabupaten Magelang lainnya.

Menurutnya, program dari Presiden Prabowo ini sudah tidak sesuai dengan tujuan awalnya saat sampai ke bawah. 

Ia masih berprasangka baik bahwa ada SPPG yang memberikan menu layak untuk siswa.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengaku sudah menyampaikan keluhan masyarakat langsung ke Badan Gizi Nasional (BGN), dalam hal ini Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional pada  Kamis (26/2/2026) lalu.

Harapannya, menu MBG bisa diperbaiki. 

“Kami juga berkomitmen penuh mendukung sinergi antara Program MBG, Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan Program Ketahanan Pangan. Kami berharap dukungan aktif dari seluruh pihak agar pelaksanaan program ini berjalan lancar, aman, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.  

Dikatakan, hingga saat ini sebanyak 120 SPPG sudah beroperasional, sementara 52 SPPG dalam tahap persiapan di 21 kecamatan.  

Dari jumlah itu, sebanyak 122 SPPG telah mengantongi Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi (SLHS) sebagai jaminan mutu dan keamanan pangan.  

Adapun sasaran penerima manfaat program MBG ini mencapai 239.172 orang, terdiri atas 226.029 siswa, serta 13.145 balita, ibu menyusui, dan ibu hamil. (rfk/aro) 

 

Editor : H. Arif Riyanto
#Mbg #SPPG #Makan Bergizi Gratis (MBG) #Badan Gizi Nasional (BGN) #Bupati Magelang Grengseng Pamuji #keluhan MBG