RADARMAGELANG.ID—Sejak kelas 7 SMP, Muhammad Ilham Wisnu Pradana menyukai seni wayang.
Padahal sebelumnya ia seorang'pecandu game seperti generasi Z kebanyakan.
"Ya, dulu ngegame terus. Sampai suatu hari kebaca akunnya. Saya berusaha mencari hiburan di Youtube. Waktu itu, tiba-tiba muncul video (pertunjukan) wayang kok judulnya menarik dan ditonton sampai jutaan," kata warga Dusun Banaran, Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang ini.
Dari situlah, remaja yang akrab disapa Ilham ini merasa penasaran dan mulai menontonnya.
Ternyata tayangan yang disajikan cukup membuatnya tertawa dan merasa terhibur.
Ilham pun kembali menonton tayangan serupa.
Sampai akhirnya, dia benar-benar suka dengan seni wayang tepat saat duduk di bangku kelas 7 SMP.
Bahkan dia pernah menonton wayang semalam suntuk.
Anehnya, dia tidak merasa jenuh meski menonton ngebyar. Kecintaannya terhadap wayang semakin menggebu.
Lantas dia tertarik untuk membeli wayang mainan secara online dan memainkannya.
Lambat laun, ia mulai kecanduan dan membelinya berkali-kali.
Suatu saat ia ingin membeli wayang mainan yang memiliki kualitas bagus.
Beruntung, dia juga mempunyai teman yang suka wayang.
"Saya sama bapak dianterin ke sebuah padepokan. Di situ yang membawa (jadi dalangnya) adalah Ki Bagong. Saya berlatih di situ selama satu-dua bulan. Saya juga dilatih gaya Solo, tapi nggak masuk. Saya dilempar ke dalang Jogja, Ki Susanto Sadewo di Gulon" katanya.
Selama delapan bulan, Ilham berlatih dengan tekun.
Lantas bertepatan dengan ulang tahunnya ke-14, sang ayah membuat pertunjukan wayang di rumahnya.
Dia diberi kesempatan untuk membuka acara sekitar 15 menit.
Momentum itu memberi kesan berharga karena kali pertama dia menjadi dalang.
Kecintaannya terhadap wayang, mengantarkan Ilham menjadi seorang siswa di SMKN 1 Kasihan, Bantul yang fokus pada seni pedalangan.
Sampai sekarang ia terus berupaya untuk mendalami ilmu pedalangan.
Selain menjadi dalang, ada sekitar 135 wayang yang mejeng di rumah remaja kelahiran 2008 ini.
Termurah di harga Rp 450 ribu dan termahal Rp 2,5 juta.
Tahun ini, ia lulus SMK, dan ingin melanjutkan pendidikannya di ISI Jogjakarta atau UNY.
Saat ditanya ihwal cita-citanya, ia menyebut, dalang bukan menjadi cita-cita utamanya.
Putra pasangan Narmin dan Siti Hariyani itu ingin lebih bermanfaat sebagai pegiat seni dan akademisi atau dosen seni.
Dia berharap, kawula muda dapat peduli melestarikan budaya Jawa itu.
Karena selama ini, mereka cenderung tak acuh dengan seni wayang.
Bahkan dia melihat, penonton pertunjukan wayang kebanyakan dari kalangan orang tua.
"Tapi saya berusaha mencari hiburan di wayang dengan menambahkan bintang tamu dan dagelan agar menarik teman-teman seumuran saya yang kurang tertarik dengan wayang," lontarnya.
Selama fokus menjadi seorang dalang, Ilham kerap mendengar orang-orang yang menyelepekannya.
Seolah tidak percaya dengan kemampuan dan hobinya itu.
Kendati demikian, dia tidak berkecil hati.
Ilham justru semakin tertentang dan berusaha untuk bisa menjadi dalang kondang.
Supaya mematahkan omongan orang-orang yang meremehkannya.
Syukurnya, orang tua mendukung langkah Ilham untuk melestarikan kesenian wayang.
"Istilahnya untuk nguri-uri budaya. Apalagi anak zaman sekarang jarang yang suka dengan wayang. Makanya, orang tua mendukung dan sangat bersyukur sekali. Daripada bermain gadget," ujar Narmin, ayah Ilham. (*)
Editor : H. Arif Riyanto