Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Wisnu Pradana, Dalang Muda Asal Dukun Magelang Gelar Pertunjukkan Wayang Kulit Semalam Suntuk di Tengah Masyarakat

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Minggu, 8 Februari 2026 | 22:31 WIB

 

Penampilan Wisnu Pradana, dalang muda asal Dusun Banaran, Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang saat menghibur masyarakat. 
Penampilan Wisnu Pradana, dalang muda asal Dusun Banaran, Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang saat menghibur masyarakat. 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Menjelang kelulusannya dari bangku SMK, Muhammad Ilham Wisnu Pradana, dalang muda asal Kabupaten Magelang ini menggelar pergelaran wayang kulit semalam suntuk di desanya.

Pergelaran wayang kulit ini digelar Wisnu pada Sabtu (7/2/2026) malam hingga Minggu (8/2/2026) dini hari, di halaman rumahnya di Dusun Banaran, Desa Keningar, Kecamatan Dukun.

Di tengah hujan yang turun pada malam hari, pergelaran tersebut tidak hanya menjadi tontonan serta hiburan bagi masyarakat sekitar.

Namun, gelaran wayang kulit itu juga menjadi langkah akhir bagi Wisnu sebelum lulus dari bangku SMK Pedalangan.

“Pergelaran pentas wayang kulit ini salah satu tujuannya memang dalam rangka uji kompetensi keahlian seni pedalangan SMKI Jogjakarta atau SMK Negeri 1 Kasihan Bantul. Sebelum detik-detik kelulusan kelas XII,” jelas Wisnu --sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Magelang sebelum tampil, Sabtu (7/2/2026).

Wisnu sendiri mengenal kesenian wayang ini sejak duduk di bangku SMP.

Dan waktu itu, salah satu tokoh yang membuat dirinya tertarik dengan wayang adalah almarhum Ki Seno Nugroho.

Dan di 2026 ini, Wisnu akan segera memasuki jalan kehidupan yang baru, yakni lulus dari bangku SMK. 

Wisnu mengaku, awal mula kenal wayang saat scroll-scroll Youtube, ia melihat channel Youtube-nya almarhum Ki Seno Nugroho.

Sekilas nonton, ia mengaku sangat tertarik dan terhibur dengan gaya dalangnya Ki Seno, apalagi yang nonton juga sangat banyak bahkan sampai jutaan.

“Dari situ saya mulai menonton channel Youtube Ki Seno, baik yang singkat bahkan sampai yang durasi full, saya tonton sampai selesai. Bahkan pas nonton ini saya benar-benar terhibur dan bisa tertawa lepas,” ungkapnya.

Mulai dari sini, ketertarikan di dunia pewayangan mulai tumbuh.

Hingga saat ini sampai di kelas XII, Wisnu kembali menggelar pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

Untuk cerita dan lakon yang dibawa pada pergelaran ini, jelas Wisnu, adalah diambil dari naskah serat Purwokondo, yaitu dari Kraton Jogjakarta.

Dengan lakon Jumenengan Dasamuko.

Pemilihan cerita dan lakon ini, kata Wisnu, juga sudah melalui filter dari para guru.

Karena sebelum tampil, dirinya rutin untuk melakukan konsultasi naskah dengan guru-guru pedalangan di sekolah.

Selain itu, pemilihan lakon ini karena dirinya memang tertarik dengan cerita tersebut.

Karena menyangkut konflik kerajaan, tentang dua raja yang berebut kekuasaan dalam satu negara.

Wisnu menjelaskan, pesan moral yang ingin disampaikan dalam lakon yang diambil ini, tentunya apa yang bukan hak miliknya sebaiknya jangan mengklaim hak tersebut. 

“Apa yang bukan hak milik kita, sebaiknya jangan kita merasa hak tersebut. Karena itu memang bukan hak milik kita, jadi kita harus menerima,” jelasnya.

Untuk persiapan pentas ini, kata Wisnu, sudah sekitar dua bulan lebih.

Selain dirinya yang tampil, Wisnu juga mengaku, mengajak teman-teman sekolah khususnya di jurusan kelas karawitan maupun teman kelas pedalangan lainnya.

“Selain itu, saya juga meminta tolong pengrawit-pengrawit senior yang ada di daerah Magelang untuk juga membantu pementasan ini,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai tujuan setelah lulus dari SMKI Jogjakarta atau SMK Negeri 1 Kasihan ini, Wisnu mengatakan, dirinya ingin melanjutkan kuliah di UGM Sastra Jawa dan pilihan lainnya di Pendidikan Bahasa Jawa UNY. 

Sementara itu, Kepala SMKI Jogjakarta (SMK Negeri 1 Kasihan Bantul), Agus Suranto mengatakan, pergelaran ini salah satu tujuannya memang merupakan bagian dari ujian kompetensi keahlian dan keterampilan menjelang kelulusan.

Ia menjelaskan, dalam uji kompetensi ini, biasanya pihak sekolah yang akan menyelenggarakan.

Namun, jika ada permintaan dari orang tua maupun permintaan masyarakat untuk sekalian menggelar pertunjukkan wayang di rumahnya contohnya seperti Wisnu ini, pihak sekolah tetap akan tetap memberikan kesempatan dan mendukung uji kompetensi tersebut.

Untuk juri maupun penilai dalam uji kompetensi ini selain dari guru sekolah, pihaknya juga mendatangkan juri tamu dari Pepadi maupun Kraton Jogjakarta.

“Untuk juri tamu malam ini ada dua yakni, dari Pepadi dan Sanggar Seni Wulan Tumanggal Jogjakarta,” ujarnya.

Untuk jumlah siswa yang akan mengikuti uji kompetensi seni pedalangan di SMKI kali ini ada 11 siswa.

Namun, salah satunya diujikan pada malam hari, sedangkan yang lain akan dirancang di sekolah. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#wayang kulit #dukun #Kabupaten Magelang #dalang muda