RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Sejumlah seniman melukis on the spot pohon randu alas di lapangan Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (11/1/2026).
Kegiatan ini sebagai wujud mengabadikan gambar terakhir pohon ikonik yang berdiri di lapangan desa tersebut. Pasalnya, pohon yang usianya sudah ratusan tahun itu bakal ditebang lantaran mengering dan dikhawatirkan roboh menimpa warga.
Inisiator melukis OTS pohon randu alas Hatmojo mengatakan, pohon ikonik di Tuksongo itu rencananya mau ditebang Senin (12/1/2026).
Karenanya, dia mengajak 7 sampai 10 seniman dari Magelang Raya dan Jogjakarta untuk melukisnya.
“Kami sebagai seniman mempunyai sebuah kepedulian untuk mendokumentasikan gambar terakhir keberadaan pohon ikonik tersebut dalam sebuah karya,” jelas seniman Magelang yang akrab disapa Atmojo ini kepada Jawa Pos Radar Magelang, Minggu (11/1/2026).
Menurut Atmojo, pohon randu alas ini konon usianya sudah 300 tahun lebih. Sebenarnya, ia sayang jika pohon harus ditebang. Karena sudah menjadi ikon lapangan Tuksongo, Kecamatan Borobudur.
“Branding lapangan randu alas ini sebenarnya juga sudah mematri di sejumlah wisatawan,” ujarnya.
Atmojo sempat mengusulkan pohon tidak ditebang semuanya. Setidaknya bisa disisakan sekitar 5 sampai 7 meter.
Tujuannya, jangan sampai nilai historis legenda pohon tersebut hilang.
Kepala Desa Tuksongo M Abdul Karim mengaku, keputusan menebang pohon tersebut diambil dengan berat hati. Namun dengan alasan keamanan, pohon terpaksa akan ditebang hari ini.
“Sebetulnya kami sangat menyayangkan. Karena pohon randu itu sudah menjadi ikon desa kami,” katanya.
Selain itu, kata dia, selama ini lapangan Tuksongo menjadi salah satu tujuan favorit rombongan wisata VW, jeep, ATV, dan kendaraan wisata lainnya.
“Para wisatawan biasanya berhenti sejenak, berfoto atau berswafoto dengan latar bukit Menoreh dan randu alas yang berdiri kokoh di sudut lapangan,” ujarnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto