RADARMAGELANG.ID, Mungkid--– Viral di media sosial, wisatawan yang kecapekan berjalan kaki saat mengunjungi Taman Wisata Borobudur, Kabupaten Magelang. Nahasnya wisatawan tersebut meskipun sudah minta tolong ke beberapa petugas untuk dibantu keluar, namun harus tetap disuruh jalan kaki.
Video yang diupload oleh influencer dari akun @jalanbarengarief ini menjadi pusat perhatian. Hingga Minggu (4/1/2026), video tersebut telah ditonton 982 ribu, dan hal ini menjadi perhatian publik. Sehingga muncul banyak pertanyaan apakah wisata sekelas Taman Wisata Borobudur yang merupakan destinasi super prioritas ini tidak memiliki fasilitas jika terjadi force majeure.
Video yang diupload pada Kamis (1/1/2026) atau tiga hari yang lalu itu, menunjukkan seorang perempuan lansia yang bungkuk berjalan tertatih-tatih hendak keluar area pelataran Candi Borobudur. Saat didekati, laki-laki yang mendampingi si ibu mengaku sudah meminta pertolongan agar dibantu keluar Borobudur ke petugas setempat.
Tapi, jawaban yang disampaikan juga tak memuaskan lantaran si ibu tetap disuruh berjalan dengan alasan kendaraan bermotor dilarang melintas di area tersebut. Si ibu akhirnya terpaksa melanjutkan langkahnya, tapi berhenti di salah satu pendopo.
Kemudian dalam video tersebut, Arief Firmansyah mencoba mendatangi wisatawan tersebut dan menanyakan kondisinya bagaimana. Setelah itu, Arief tampak berkomunikasi dan mencoba membantu berkomunikasi dengan petugas yang ada.
“Saya jalan dulu aja, saya panggil petugas dari sana. Ibunya di sini dulu aja, jangan ke mana-mana, soalnya saya lihat tadi ibunya sudah capek juga ya,” ujar Arief kepada pria pendamping pengunjung lansia tersebut.
Arief pun mencoba membantu dengan mengontak Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWC) via Whatsapp. Jawaban yang didapat kurang memuaskan karena hanya dijawab 'mohon menunggu sebentar kak, kami sampaikan ke unit terlebih dahulu'.
Ia lalu mendekati petugas keamanan berseragam batik untuk kembali meminta tolong agar lansia itu bisa dibantu keluar area halaman Borobudur. Lagi-lagi, jawaban yang disampaikan bikin garuk-garuk kepala. Pasalnya, ia mengaku tak bisa bantu kecuali memanggilkan ambulans untuk mengangkut pengunjung yang sakit.
“Saya keamanan juga susah. Kalau ada pribadi ya saya ambil motor, tapi masalahnya motor dilarang di sini,” kata petugas tersebut.
Arief juga sempat menanyakan jika semisal dijemput pakai shuttle bagaimana. “Mungkin ada shuttle pak?” tanya Arief.
Lagi-lagi, jawaban dari petugas keamanan juga kurang memuaskan. “Nggak bisa, shuttle juga terbatas. Kalau udah nggak mungkin, kalau sakit, harus ambil ambulans,” jawab petugas itu lagi.
Mendengar jawaban itu, Arief juga tampak sedikit kecewa. Ia juga memberikan masukan kepada petugas tersebut, dengan harapan dapat diteruskan ke pimpinannya. Mengingat destinasi Candi Borobudur ini sangat luas, sehingga jika ada kondisi force majeure. Ia mempertanyakan status Borobudur sebagai destinasi wisata super prioritas, tetapi tidak memiliki SOP untuk hal-hal demikian.
“Masukannya saja, jika ada kondisi force majeure kalau ada orang tua atau disabilitas kalian itu sebagai petugas harus ada hal-hal yang seperti itu jika ada kondisi force majeure,” ujarnya.
Menanggapi video tersebut, Corporate Secretary Group Head TWC Destantiana Nurina meminta maaf dan berterima kasih atas masukan yang disampaikan. “Kami mohon maaf atas keterlambatan respon dari tim kami di video tersebut dan terima kasih atas masukan yang telah disampaikan,” ujarnya.
Ia menyampaikan, hal tersebut akan menjadi masukan yang sangat penting untuk manajemen karena kebutuhan khusus untuk lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan anak-anak adalah hal yang penting dan tidak dapat ditunggu. “Kami menyadari sepenuhnya bahwa kami harus memperbaiki sistem yang berlaku untuk memberikan bantuan secara cepat tanggap bagi mereka yang membutuhkan,” ucapnya.
Ia menambahkan, Candi Borobudur ini merupakan destinasi yang menjunjung prinsip inklusivitas. Berbagai fasilitas pendukung bagi kelompok prioritas telah disediakan, seperti: kursi roda yang tersedia di simpul gate, Manohara Borobudur Cultural Center, dan pusat informasi.
Kendaraan listrik (EV) gratis untuk umum dan prioritas bagi lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, serta anak-anak yang berkeliling pada jam operasional (06.00 – 18.00 WIB). Ambulans yang bersiaga di pos pelayanan kesehatan dan kantor unit pengelola.
“Ke depan, kami akan memastikan agar seluruh informasi mengenai ketersediaan fasilitas dapat terkomunikasikan dengan lebih jelas, baik kepada tim internal maupun kepada pengunjung, guna menghadirkan pengalaman berwisata yang aman, nyaman, dan berkesan. Kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang semakin responsif, khususnya bagi wisatawan prioritas seperti lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan anak-anak,” ujarnya. (rfk/ton)
Editor : H. Arif Riyanto