Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Dampak Pemugaran Candi Mendut Magelang Tak Kunjung Selesai, Pedagang Wadul ke DPRD Kabupaten Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Jumat, 2 Januari 2026 | 21:58 WIB

 

Para pedagang Candi Mendut bertemu dengan DPRD Kabupaten Magelang, Jumat (2/1/2026). 
Para pedagang Candi Mendut bertemu dengan DPRD Kabupaten Magelang, Jumat (2/1/2026). 

 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Dampak pemugaran Candi Mendut, Kabupaten Magelang yang tak kunjung selesai, para pedagang di sekitar Candi Mendut mengeluh sepi pengunjung.

Bahkan momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang diharapkan menjadi masa panen, ternyata zonk alias tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

Akhirnya, mereka pada Jumat (2/1/2026) pagi, para pedagang wadul ke DPRD Kabupaten Magelang untuk meminta jalan keluar.

Para pedagang mengeluhkan pemugaran candi yang hingga sekarang tidak kunjung selesai, apalagi proses pemugaran ini tidak ada sosialisasi sama sekali ke para pedagang.

Sebelum ditemui Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang Soeharno beserta anggota Komisi II DPRD Kabupaten Magelang, puluhan pedagang yang didominasi emak-emak melakukan aksi damai pedagang Candi Mendut sebagai dampak pemugaran candi.

Dengan membentangkan sejumlah poster yang bertuliskan Kompensasi Buat Pedagang Selama Pemugaran Candi Mendut, Bebaskan Sewa Kios, Pemugaran Candi Mendut Tanpa Sosialisasi Merugikan Warga/Pedagang Setempat, dan lainnya.

Kios pedagang Candi Mendut banyak yang tutup karena sepi pengunjung.
Kios pedagang Candi Mendut banyak yang tutup karena sepi pengunjung.

Ketua Paguyuban Pedagang Candi Mendut Zulfiati mengatakan, kedatangan para pedagang ke gedung dewan untuk berkeluh kesah, akibat tidak adanya pemasukan selama proses pemugaran Candi Mendut.

Bahkan di momen libur Natal dan Tahun Baru ini, yang seharusnya bisa mendapatkan pemasukan sehari Rp 200 ribu lebih, kali ini sama sekali tidak ada pemasukan.

“Selain itu, selama proses pemugaran ini, kita juga tidak mendapatkan sosialisasi dari stakeholder terkait,” keluhnya.

Dikatakan Zulfiati, para pedagang menginginkan adanya sosialisasi pihak terkait tentang pemugaran Candi Mendut prosesnya seperti apa.

Karena selama ini belum ada sosialisasi.

Selain itu, pihaknya meminta pembebasan sewa kios.

Zulfiati mengaku, sewa kios sebesar Rp 2,2 juta per tahun.

“Di sini kita meminta untuk pembebasan sewa kios, mengingat selama pemugaran ini tidak ada wisatawan yang berkunjung,” ujarnya. 

Para wisatawan ini, kata Zulfiati, hanya datang dan lihat dari luar saja.

“Bahkan, wisatawan tidak turun dari kendaraan ,” ungkapnya. 

Sehingga pihaknya meminta ada kompensasi untuk sewa kios.

Juga kompensasi keringanan sewa parkir.

“Kita minta untuk sewa area parkir diringankan karena juga berdampak tidak adanya tamu. Terpenting, kita minta kompensasi selama pemugaran. Karena semua pedagang tidak kerja dan tidak ada tamu. Ini satu-satunya pekerjaan hanya jualan di Candi Mendut, maka kami minta kompensasi, bentuknya  apa kami ngikut,” sambungnya.

Ia menyebut ada 76 pedagang di Candi Mendut.

Pedagang yang aktif sekitar 70 orang.

Sebelum Candi Mendut dipugar, pendapatan para pedagang Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu per hari.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang Soeharno mengatakan, pihaknya sudah mendengar penjelasan masing-masing pihak.

Ini merupakan, satu konsekuensi logis yang harus dilakukan oleh pihak Cagar Budaya. 

“Kapan ini waktunya juga belum jelas, selama kapan ini para pedagang pastinya tidak pekerjaan dan mereka pastinya menuntut sebuah kompensasi,” ujarnya. 

Sehingga kompensasi ini juga harus disampaikan pihak terkait ke para pedagang. Dan rencana pemugaran yang pasti sampai kapan ini, harus disampaikan. 

“Selain itu, untuk fasilitas daerah yang ada di sana kita juga meminta pemerintah daerah untuk membantu meringankan. Dan dari komisi B, saya minta untuk tindaklanjuti membuat surat secara resmi,” ucapnya. 

Ia menambahkan, DPRD juga bakal memanggil pihak Museum dan Cagar Budaya (MCB) serta dinas terkait.

“Jadi nanti dinas yang ada di sini (terkait) dan MCB, kita undang ke sini. Kita undang karena menyangkut konsekuensinya pemugaran ini berakibat para pedagang tidak punya pekerjaan,” tegasnya.

“Jangan sampai angka kemiskinan di Kabupaten Magelang ini bertambah akibat hal ini,” imbuhnya. (rfk/aro

Editor : H. Arif Riyanto
#candi mendut #sepi pengunjung #nataru #DPRD Kabupaten Magelang #demo