RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Jelang momen libur Natal dan Tahun Baru, para pedagang di destinasi wisata Candi Mendut, Kabupaten Magelang menjerit.
Hal ini dikarenakan, Candi Mendut sedang dalam proses pemugaran.
Sub Koordinator Museum dan Cagar Budaya (MCB) Warisan Dunia Borobudur Wiwit Kasiyati mengatakan, masyarakat harus memahami karena Candi Mendut ini sudah dalam kondisi ada kerusakan di bagian atap candi.
“Ini kalau nggak dipugar, nanti kerusakannya semakin meningkat. Karena setelah dibuka batu-batunya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan X (BPK X), justru semakin terlihat bahwa di badan itu sudah menggelembung begitu, sehingga tahun ini targetnya baru membongkar,” jelas Wiwit kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Wiwit menyampaikan, target 2025 ini info dari BPK X masih tahap pembongkaran. Sedangkan untuk penyusunan ulang direncanakan pada 2026 mendatang.
“Nanti anggaran tahun depan, Insya’ Allah masih akan dilanjutkan oleh BPK X untuk menyusun kembali. Jadi, kita meminta masyarakat untuk bersabar,” imbuh Wiwit.
Wiwit berharap, setelah disusun kembali, Candi Mendut sudah bisa dimanfaatkan lagi. Sedangkan untuk akses ke candi masih tetap bisa.
“Karena sebenarnya yang kami tutup itu hanya untuk masuk ke bilik candi. Pengunjung masih bisa menikmati di halaman candi. Tapi, rata-rata yang saya tahu di lapangan itu mereka tidak mau masuk, meskipun hanya di halaman. Jadi, mereka hanya foto-foto dari luar,” tambah Wiwit.
Ia mengatakan, akibat pemugaran ini berdampak pada pendapatan pemkab terkait angka kunjungan ke Candi Mendut. Namun hal ini memang harus dilakukan sebagai bentuk pelestarian.
Wiwit menjelaskan, pemugaran ini menjadi tugas BPK Wilayah X. “Sedangkan untuk perawatan harian memang di kita (MCB). Karena kami tidak ada yang spesialis pemugaran atau juru pugar,” ujarnya.
Ketua Pedagang Candi Mendut Zulfiati mengaku sejak pemugaran pada Juli lalu, penurunan jumlah pengunjung mulai terasa. Sejak saat itu, jumlah wisatawan turun drastis. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan pedagang.
“Sejak Juli, benar-benar sepi. Pernah dalam satu hari hanya empat orang yang masuk ke candi. Itu sangat jauh dibanding kondisi normal,” keluhnya.
Zulfiati menjelaskan, saat kondisi ramai, setidaknya pedagang masih bisa memperoleh pendapatan minimal Rp 100 ribu per hari. Bahkan bisa meningkat pada hari-hari besar atau musim liburan. Namun selama masa pemugaran, banyak kios nyaris tidak mendapat pemasukan sama sekali.
“Sekarang bisa dibilang tidak ada tamu. Banyak pedagang akhirnya memilih tutup sementara. Yang masih buka ya tinggal kuliner dan beberapa penjual suvenir,” ucapnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto