RADARMAGELANG.ID, Mungkid –RSUD Bukit Menoreh, Salaman, Kabupaten Magelang mengadakan Koordinasi Terintegrasi Kegiatan Pencegahan dan Penanggulangan Stunting yang diadakan RSUD Bukit Menoreh, Sabtu (13/12/2025).
Upaya ini dilakukan untuk membantu menurunkan angka stunting di Kabupaten Magelang.
Dalam kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah orang tua bersama anaknya yang terindikasi stunting didampingi petugas dari puskesmas dari enam wilayah di Kabupaten Magelang.
Mereka mendapatkan pemahaman mengenai stunting dan penanggulangannya. Sekaligus pengetahuan mengenai mengolah makanan pendamping makanan utama untuk mendukung asupan gizi pada anak.
Dokter Johan Wijaya Kesit, SpA dari RSUD Bukit Menoreh menjelaskan asupan gizi optimal pada 1000 hari pertama kehidupan anak, dimulai dari kandungan hingga dua tahun setelah lahir, menjadi sangat krusial.
“1000 hari pertama kehidupan merupakan masa kristis atau masa yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Maka, kecukupuan gizinya harus diperhatikan,”ujarnya.
Karena kekurangan gizi kronis pada masa golden age itu akan menyebabkan stunting atau gagal tumbuh.
Ditandai dengan tinggi dan berat badan kurang dari anak seusianya. Selain itu, infeksi berulang dan adanya penyakit kronis juga menjadi penyebab stunting.
Anak yang sudah terindikasi stunting harus segera mendapatkan penanganan karena berdampak besar pada tumbuh kembangnya.
“Pertumbuhan fisiknya terganggu, kecerdasannya menurun karena perkembangan otaknya terhambat. Dan daya tahan tubuhnya lemah, mudah terserang penyakit,” paparnya.
Pencegahan stunting dilakukan dengan konsep ABCD. Yakni aktif minum tablet tambah darah bagi remaja putri, bumil (ibu hamil) harus rutin periksa kandungan, cukupi protein hewani, datang ke posyandu dan eksklusif ASI 6 bulan.
Sementara itu, Indah Kusniati dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang memaparkan beberapa penyebab anak stunting di wilayah Kabupaten Magelang berdasarkan hasil audit kasus stunting rekomendasi tim pakar.
Yakni pola asuh yang kurang baik, terpapar asap rokok, sanitasi buruk, pendidikan, anemia dan 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak anak, terlalu dekat jarak melahirkan).
Ia meminta ibu-ibu untuk memperhatikan setiap suapan makanan yang diberikan pada anak.
Agar anak benar-benar mendapatkan makan dengan gizi yang tercukupi.
Makanan pendamping ASI yang tepat diberikan pada anak mulai usia 6 bulan, teksturnya disesuaikan usia, harus kaya protein hewani, tidak terlalu encer dan tidak hanya karbohidrat.
Peran ayah juga sangat diperlukan untuk tumbuh kembang anak.
Ayah harus mendukung ibu dalam pemberian ASI dan makanan pendamping ASI. Juga ikut dalam edukasi dan pola asuh.
Pada kesempatan tersebut, ibu-ibu juga diberikan pemahaman mengenai cara mengolah makanan pendamping untuk mencukupi kebutuhan gizi anak.
Susi Nugraheni dari RSUD Bukit Menoreh memaparkan contoh olahan menu yang menarik minat anak.
Menu-menu ini sebagai makanan pendamping di samping makanan utama pada anak.
Ia menyontohkan menu shotel makaroni kukus dan pisang santan bungkus daun.
Menu tersebut dibagikan pada anak-anak yang hadir di acara tersebut. (lis)
Editor : Lis Retno Wibowo