RADARMAGELANG.ID, Mungkid-Tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati segelas kopi. Kedai Kopi dan Taman Baca Kebun Makna juga menyediakan spot untuk membaca, bagi para teman-teman yang hobi membaca.
Kedai Kopi dan Taman Baca Kebun Makna ini berada di Karang Sanggrahan, Plosogede, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang.
Jauh dari jalan utama, kedai kopi ini menghadirkan tempat yang nyaman untuk bersantai menikmati kopi, serta membaca buku.
Selain menghadirkan menu kopi lokal Magelang dan daerah sekitarnya. Kedai Kopi dan Taman Baca Kebun Makna ini juga memiliki ribuan koleksi buku yang bisa dibaca oleh pengunjung.
Buku-buku ini memang disediakan oleh owner untuk dibaca oleh para pengunjung.
Berada jauh dari jalanan kota atau jalan utama. Tempat ngopi ini, sangat cocok untuk bersantai sambil membaca buku.
Maupun untuk teman-teman mahasiswa atau pelajar mengerjakan tugas.
Rekki Zakia, salah satu owner Kedai Kopi dan Taman Baca Kebun Makna mengatakan, kalau tempat ini sebenarnya ide dari dua orang.
Yakni, dirinya dengan Maskur Hasan (teman semasa kuliah). “Dia (Maskur Hasan) ini merupakan teman kuliah saya dulu di Jogjakarta,” jelasnya.
Berawal dari kecintaan di dunia seni, literasi, kopi, dan buku-buku.
Dirinya bersama Maskur Hasan, di 2022 lalu muncul ide untuk membuat sebuah tempat berkumpul. Dan muncul tempat ini.
“Kita menginginkan tempat ini sebagai lokus, komunitas, dan ruang berkumpul semua khalayak lintas generasi, untuk berdiskusi maupun bersantai semua khalayak,” ujarnya.
Sehingga kedai kopi kebun makna ini hadir dengan harapan bisa menjadi ruang literasi dan tempat diskusi.
“Selain itu, menurut kita, ngopi sambil baca buku itu lebih asyik. Daripada, ngopi sambil asyik main HP sendiri,” ujarnya.
Sehingga adanya kombinasi antara kedai kopi dan taman baca buku ini, pihaknya ingin agar pengunjung bisa lebih memanfaatkan waktunya untuk hal yang positif. Daripada hanya bermain game-game saja.
Saat ini, total kira-kira ada 5.000 judul buku. “Dan ini semua mayoritas merupakan koleksi saya pribadi. Meskipun ada beberapa yang merupakan support dari Perpusda Provinsi Jawa Tengah dan Perpustakaan Nasional,” jelasnya.
Sebagian besar buku yang ada disini merupakan, filsafat, sastra, budaya, politik, ideologi, agama Islam, kemudian teori-teori sosial, buku anak-anak, ensiklopedia khusus anak-anak dan juga sejumlah novel. “Kita lemah di saint,” ucapnya
Untuk support dari perpustakaan nasional itu sangat bagus, karena buku yang diberikan itu berupa ilustrasi, dan cerita-cerita dongeng anak-anak.
Untuk dari perpustakaan nasional itu ada sekitar 1.000 buku anak-anak, dan 700 buku dari perpustakaan daerah provinsi. “Sisanya milik saya pribadi,” jelasnya.
Ia mengaku, kekurangan disini itu, masih belum di kualifikasi sesuai tema.
Sehingga, pihaknya masih berusaha mencari tenaga relawan untuk membantu mengkualifikasi buku-buku ini sesuai dengan tema masing-masing.
Dan disini aksesnya 24 jam. Untuk kedai kopinya beroperasi dari pukul 09.00 sampai 23.00, sedangkan untuk taman baca bukunya terbuka 24 jam.
“Dan di luar jam operasi kedai kopi, pengunjung boleh membawa makanan dan minuman sendiri,” ucapnya.
Rekki mengatakan, untuk buku-buku ini, hanya bisa dinikmati dan dibaca di tempat saja.
Karena dirinya memiliki pengalaman yang kurang enak terkait pinjam meminjam buku.
“Kita sudah kehilangan sekitar 200-an buku, akibat dipinjam dan tidak dikembalikan,” ungkapnya.
Meskipun sudah melarang untuk membawa pulang buku.
Namun, dirinya tetap tidak memungkiri masih ada sejumlah orang yang tetap nekat membawa pulang buku di Taman Baca Kebun Makna ini.
“Jika ada buku yang hilang, saya hanya bisa bilang ke diri saya sendiri bahwa orang yang membawa buku tersebut, mungkin sedang membutuhkan. Apalagi lokasi disini juga terbuka, dan itupun hanya sedikit,” ucapnya.
Ia mengaku, dalam mengembangkan bisnis ini, tujuannya hanya satu.
Yakni, untuk memberikan ruang bagi teman-teman untuk membaca buku dan menyediakan sebuah perpustakaan paling lengkap di Magelang. Sehingga semua masyarakat bisa membaca dengan santai.
Dan pastinya buku disini juga akan selalu di perbarui.
“Karena setiap bulan, saya mengalokasikan pendapatan disini untuk membeli buku dan menambah koleksi buku disini,” ujarnya.
Tidak hanya buku yang beraneka ragam. Di sini, owner juga menyediakan beragam menu khususnya kopi dari sejumlah daerah.
Seperti kopi lokal asal Wonosobo, Temanggung, Kabupaten Semarang, dan pasti Magelang.
“Kita menampung segala macam jenis kopi dari teman-teman seperti arabica dari Babadan, arabica dari Gunung Kelir Semarang, ada juga krecek Temanggung robusta dan arabica. Dan juga kopi-kopi Magelang,” jelasnya.
Dan untuk makanan, pihaknya menyiapkan menu standart. Yakni, telo goreng, mendoan, dan selebihnya kentang goreng. Untuk makan berat, ada mie nyemek, nasi goreng. (rfk/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo