Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Semangat Berbudaya Menyala dari Siswa SDN Keningar 2 di Lereng Gunung Merapi Magelang

Puput Puspitasari • Kamis, 6 November 2025 | 18:30 WIB
Siswa SD Negeri Keningar 2 Kabupaten Magelang berlatih seni karawitan di Pendopo Ngentak, Desa Sumber, Kecamatan Dukun.
Siswa SD Negeri Keningar 2 Kabupaten Magelang berlatih seni karawitan di Pendopo Ngentak, Desa Sumber, Kecamatan Dukun.

RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Di bawah lereng Gunung Merapi, ada semangat berbudaya menyala dari mereka yang masih anak-anak.

Adalah siswa SD Negeri Keningar 2 Kabupaten Magelang yang tergerak hati menyelami dalam dunia karawitan. 

Masih berbalut seragam merah putih, kaki mereka beranjak meninggalkan sekolah.

Berjalan beriringan menuju sebuah pendopo di Dusun Ngentak, Kelurahan Sumber, Kecamatan Dukun—yang berjarak 300 meter dari sekolah.

Di sana, sudah ada Sumartin yang menunggu.

Memberikan sambutan hangat dengan penuh senyuman.

Bahkan, semua gamelan sudah ditata rapi olehnya. Ada kendhang, saron, demung, bonang, kenong, gong, gambang, siter.

Ia sang guru karawitan.

Jam dinding pun telah menunjukkan waktu 13.00.

Para siswa bergegas menempatkan diri, bersiap menabuh gamelan di posisi duduk masing-masing. 

Nafisa Zalfa Khumaira salah satunya, ia kejatah memainkan saron.

Tangannya terlihat lincah bergerak, meski baru setahun ini latihan.

Ia memukul bilah logam perunggu dengan begitu harmonis.

“Walau awalnya terasa sulit, sekarang saya  merasa senang bisa memainkan gamelan ini. Suaranya unik,” tutur bocah kelas 5 SD itu.

Ketika menabuh gamelan, Nafisa tidak hanya asal pukul.

Ia memainkannya dengan penuh perasaan, agar setiap nada yang dihasilkan terdengar merdu di telinga.

“Menabuh gamelan harus percaya diri, dan menabuhnya pakai perasaan, hehehe,” celotehnya.

Pelatih karawitan Sumartin membenarkan, menabuh gamelan harus melibatkan perasaan atau penghayatan mendalam.

Dalam seni karawitan, setiap penabuh gamelan tidak hidup sendiri. Mereka hadir untuk saling mengisi hingga tercipta musik yang harmonis.

“Bermain gamelan tidak hanya sekadar bermain seni musik tradisional, tapi juga mengasah ketajaman rasa, dan meletakkan budi pekerti yang luhur,” ujarnya.

Kepala SD Negeri Keningar 2 Irma Wadati menjelaskan, alasannya memilih ekstrakurikuler karawitan untuk siswa kelas 4, 5, dan 6.

Selain untuk melestarikan kebudayaan Jawa, seni karawitan diyakini sebagai jalan untuk membentuk karakter siswa.

“Karawitan ini bukan hanya sebagai hiburan, tapi menjadi media efektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang berakar pada kearifan lokal,” ujar Irma—begitu akrab disapa.

Ia membuktikan sendiri, setelah program ini  berjalan satu tahun, sikap anak-anak menunjukkan arah yang positif.

Mereka menjadi pribadi yang lebih tenang dan sopan, tanpa kehilangan masa dan hak mereka sebagai anak-anak.

“Ketika bermain, mereka juga terlihat lebih kompak antara satu dengan yang lainnya. Karena dalam karawitan, mereka juga belajar untuk kerja sama agar tercipta irama yang merdu untuk didengar,” tuturnya.

Seni karawitan juga mengajarkan arti dari sebuah proses.

Bahwa untuk mendapatkan hasil yang baik, mereka harus bersabar, berusaha penuh berjuang.

Alhamdulillah dengan gigih berlatih, mereka sudah siap tampil di depan umum untuk membawakan dua tembang, Gugur Gunung dan Kui Opo Kui,” imbuhnya.

Dalam waktu dekat ini, siswa SD Negeri Keningar 2 Kabupaten Magelang akan tampil di acara merti Dusun Ngentak, pada 19 November.

Selain menampilkan karawitan, siswa di sekolah yang berjarak 8 kilometer dari puncak Gunung Merapi ini akan menyuguhkan pertunjukan tari Soreng.

“Sabtu, 8 November ini, kami juga mendapat kesempatan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk tampil dalam acara pertunjukan wayang kulit di halaman LPPL Radio Gemilang FM,” tambahnya.

Kesempatan emas ini diyakini akan memberikan pengalaman berharga bagi para siswa.

Juga menambah semangat mereka untuk belajar menjadi penabuh gamelan profesional.

“Kita berharap, setelah mereka lulus SD, kesenian karawitan ini akan terus mereka tekuni hingga dewasa,” pungkasnya. (put/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#kecamatan dukun #karawitan #ekstrakurikuler #Kabupaten Magelang