RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Di tengah gempuran produk modern dan kemasan plastik, warga Dusun Jetak, Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, tetap mempertahankan tradisi membuat besek dari bambu. Meski jumlah pengrajin semakin menyusut, mereka berupaya menjaga warisan turun-temurun tersebut.
Dahulu, Dusun Jetak dikenal sebagai sentra pengrajin besek. Hampir setiap rumah melakukan pekerjaan yang sama yaitu, menyayat bambu, menjemur hasil iratan, lalu menganyamnya menjadi besek. Namun seiring berjalannya waktu, minat masyarakat menurun. Banyak warga beralih ke pekerjaan lain, seperti bertani atau merantau ke luar daerah.
Menurut Sudarwiyah, 65, salah satu pengrajin yang masih bertahan hingga kini, jumlah pembuat besek di Dusun Jetak terus berkurang. “Sekarang tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan. Padahal dulu hampir semua warga bikin besek,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Selasa (21/10/2025).
Sudarwiyah sendiri telah menekuni pekerjaan ini sejak tahun 1980-an. Ia mulai belajar menganyam besek dari orang tuanya ketika masih remaja dan terus melanjutkannya hingga kini. “Sudah dari dulu saya bikin besek, sejak sekitar tahun 1980-an. Dulu ramai sekali, tiap rumah ada yang bikin,” kenangnya.
Selain menurunnya minat, tantangan terbesar pembuatan besek adalah faktor cuaca. Proses pengeringan iratan bambu sangat bergantung pada panas matahari. Jika iratan masih lembap saat dianyam, bambu bisa mengerut sehingga anyaman menjadi renggang dan jika sampai berjamur, besek tidak bisa dijual.
“Kalau bambunya masih basah waktu dianyam, nanti bisa mengerut dan renggang. Kalau sampai berjamur, beseknya nggak bisa dijual,” jelas Sudarwiyah.
Dalam sehari, Sudarwiyah mampu membuat sekitar 20–30 besek ukuran 5 melik. Melik adalah satuan ukuran berdasarkan jumlah lubang atau pola anyaman pada besek. Setiap pengrajin memiliki ukuran dan motif berbeda, tergantung kebiasaan serta permintaan pembeli.
Bambu sebagai bahan baku biasanya dibeli dari tetangga sekitar, diserut (diirat), lalu dijemur selama 1–2 hari. Tahap pengeringan menjadi proses paling memakan waktu, sedangkan proses menganyam setelah bambu kering justru berlangsung relatif cepat.
Harga jualnya pun masih tergolong terjangkau. Untuk satu kodi sekitar 40 besek atau 20 tangkep (pasang) ukuran kecil 15×15 cm dipatok sekitar Rp22.000. Para pengepul di desa kemudian menyalurkan besek ke pasar atau memenuhi pesanan dalam jumlah besar. Jika ada pesanan banyak, pembeli biasanya diarahkan langsung ke pengepul karena stok lebih banyak tersedia.
Meski kalah saing dengan kemasan modern, besek bambu masih sering dipilih warga setempat untuk membungkus makanan saat slametan atau hajatan karena dinilai lebih alami, rapi, dan ramah lingkungan.
“Kalau ada acara, banyak yang masih pakai besek untuk bungkus makanan atau oleh-oleh. Rasanya lebih sopan daripada pakai kardus atau ceting plastik,” ungkap Rahmat (46), warga setempat.
Kini, keberadaan para pengrajin yang tersisa di Dusun Jetak menjadi saksi hidup dari tradisi yang hampir pudar. Di tengah perubahan zaman, mereka tetap setia menjaga anyaman bambu sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan kampungnya. (mg3/mg6)
Editor : H. Arif Riyanto