RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Siswa kelas 3 dan 4 MI Yakti Purwodadi, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, terpaksa mengungsi ke rumah warga dan mushala dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM).
Kondisi itu terpaksa dilakukan karena atap sekolahan roboh setelah digempur cuaca ekstrem pada Jumat (17/10/2025) lalu.
Berdasarkan pantauan Radar Semarang Senin (20/10/2025), tampak suasana sekolah sudah sepi. Hanya tinggal para guru. Informasi yang didapat, siswa sudah dipulangkan lebih awal.
Selain itu, tampak atap salah satu ruang kelas telah hilang. Atap tersebut roboh akibat hujan deras disertai angin kencang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Magelang.
Sementara puing-puing atap masih berada di halaman sekolah. Akibat robohnya atap ruang kelas tersebut, psiswa kelas 3 dan 4 terpaksa mengungsi.
“Untuk siswa kelas 4 kita pindah sementara ke rumah warga yang berada di depan sekolah, dan untuk kelas 3 di mushala sekolah. Hal ini kita lakukan agar proses belajar anak-anak tetap bisa dilaksanakan,” jelas Muh Sirjam, Kepala MI Yakti Purwodadi Senin (20/10/2025).
Ia menjelaskan, saat kejadian, kondisi sekolah sudah kosong. Sebab, peristiwanya sekitar pukul 17.20.
Awalnya, warga sekitar mendengar suara seperti bangunan roboh. Saat dicek, ternyata yang roboh itu atap ruang kelas 3 dan 4.
“Pas saya sampai lokasi, kondisi sudah gelap gulita, kondisi listrik juga padam. Sehingga, saya mencoba menghubungi PLN, sebelum melakukan pembersihan pada waktu,” jelasnya.
Sirjam mengatakan, untuk jumlah siswa di MI Yakti Purwodadi itu ada sekitar 75 anak. “Untuk kelas 4 itu ada 11 anak dan kelas 3 itu ada 10 anak,” ujarnya.
Sirjam mengaku, berdasarkan informasi dari komite, bangunan sekolah sudah beridri sejak 1982. Dan sudah lama tidak ada revitalisasi. Terakhir direvitalisasi pada 2009.
“Dan yang kita perbaiki waktu itu, bangunan yang roboh kemarin,” ucapnya.
Di tengah kondisi itu, Sirjam mengatakan, semangat belajar anak-anak tetap menyala. Meski dalam keterbatasan, anak-anak masih begitu antusias mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Magelang Dr KH Hanif Hanani mengatakan, pihaknya sudah meninjau ke lokasi MI tersebut. Dan memang benar, kondisinya masih memerlukan perhatian khusus, apalagi usai kejadian hujan deras disertai angin kencang.
Pihaknya akan berusaha membantu mencarikan anggaran perbaikan. Mengingat, kondisi keuangan Kemenag saat ini sudah tidak ada lagi DIPA anggaran untuk perbaikan sekolah seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Sehingga kami akan coba carikan bantuan anggaran, baik dari bantuan teman-teman pegawai Kemenag atau anggaran dari lembaga lain,” ujarnya.
Sementara itu, BMKG Stasiun Klimatologi Semarang sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem, hujan lebat disertai petir dan angin kencang di wilayah Kedu, termasuk Kabupaten Magelang, sejak Kamis (16/10/2025). Fenomena ini dipicu oleh peningkatan aktivitas Monsun Asia dan pertemuan angin (konvergensi) di wilayah Jawa bagian tengah, yang menyebabkan pertumbuhan awan-awan konvektif cukup signifikan.
“Pola pergerakan angin menunjukkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir di wilayah Magelang hingga beberapa hari ke depan. Kami menghimbau masyarakat untuk tetap waspada terutama terhadap pohon tinggi dan papan reklame besar,” dikutip dari rilis BMKG.
BPBD Kabupaten Magelang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem hingga akhir Oktober 2025. Masyarakat diminta untuk tidak berteduh di bawah pohon besar atau baliho saat hujan dan angin kencang. (rfk/zal)
Editor : H. Arif Riyanto