RADARMAGELANG.ID, Mungkid - BW Craft, milik Basiyo, telah menjadi pelopor perajin sandal sejak tahun 1998.
Awalnya, BW Craft fokus memproduksi sandal bermotif batik yang biasanya dijual sebagai oleh-oleh untuk para wisatawan.
Namun, pada 2020, Basiyo menerima tawaran kerja sama dari PT Taman Wisata Candi Borobudur untuk memproduksi sandal Upanat secara masal.
Kerja sama ini bermula dari program wajib yang dicanangkan oleh Balai Konservasi, yang mengharuskan para wisatawan menggunakan sandal Upanat saat mengunjungi kawasan Candi Borobudur.
Untuk mendukung program tersebut, dilakukan pelatihan bagi para perajin dalam pembuatan sandal Upanat.
Sandal Upanat sendiri wajib dipakai oleh setiap pengunjung yang ingin menaiki kawasan Candi Borobudur guna menjaga dan melestarikan struktur batu candi dari kerusakan yang bisa terjadi akibat gesekan alas kaki konvensional.
Nama “Upanat” diambil dari gambar pada Relief Karmawibhangga panel 150 di Candi Borobudur yang menggambarkan dua orang sedang mempersembahkan alas kaki kepada Brahmana.
Alas kaki tersebut kemudian dianggap sebagai asal usul sandal Upanat.
“Jadi Upanat itu artinya alas kaki,” ujar Basiyo.
Dalam pembuatannya, sandal Upanat menggunakan bahan-bahan sederhana yang disediakan oleh Badan Usaha Milik Desa Bersama (BumDesma).
Strap dan permukaan atas sandal terbuat dari anyaman daun pandan, sedangkan penjepit bagian depan berasal dari batok kelapa.
Bagian alas bawah menggunakan busa agar sandal terasa lebih nyaman saat dipakai.
Proses pembuatan sandal mencakup beberapa tahap, mulai dari memotong anyaman pandan dan busa, menyatukan potongan dengan lem, menjahit, hingga pemeriksaan kualitas agar sandal kuat dan tahan lama.
Desain sandal Upanat telah disesuaikan dan dipatenkan oleh pihak Taman Wisata Candi Borobudur sehingga tidak boleh diperjualbelikan secara umum.
Dalam sehari, Basiyo bersama lima perajin lainnya mampu memproduksi sekitar 100 pasang sandal Upanat, atau sekitar 400 pasang dalam seminggu.
Jumlah produksi ini mengikuti kebijakan terbaru dari Taman Wisata Candi Borobudur yang mulai Juli 2025 menaikkan kuota pengunjung dari 1.200 menjadi 3.000 orang per hari.
“Dengan adanya kenaikan kuota ini, kita selaku perajin sangat berterima kasih ya, karena ada peningkatan produk juga ada peningkatan ekonomi,” tutur Basiyo dalam menanggapi kebijakan tersebut.
Selain sandal Upanat, BW Craft juga menerima pesanan untuk souvenir khas Borobudur, tas kulit, sandal kulit, hingga sandal bermotif batik yang telah diekspor hingga ke Amerika Serikat.
Harga sandal Upanat saat ini dipatok sekitar Rp34.000 per pasang, harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan saat pertama kali diproduksi.
Namun, Basiyo berharap pihak pengelola Candi Borobudur dapat menaikkan harga sandal Upanat, mengingat banyak bahan baku yang harganya terus meningkat.
BW Craft berlokasi di Jalan Borobudur - Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Saat ini, terdapat sekitar 10 perajin lain di daerah Borobudur yang juga memproduksi sandal Upanat, menandai berkembangnya kerajinan lokal yang tidak hanya membantu pelestarian budaya tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. (mg7).
Editor : H. Arif Riyanto