RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Sejak bertahun-tahun lamanya, Dusun Keprekan, Desa Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, dikenal sebagai sentra pengrajin sapu rayung.
Hampir setiap rumah di dusun ini memiliki keterampilan membuat sapu tradisional yang menjadi sumber penghasilan utama warga.
Kerajinan ini merupakan warisan turun-temurun dari para leluhur yang konon berawal dari tujuh orang pertama, yang masih berada dalam satu garis keturunan.
Dan kemudian menekuni pembuatan sapu di dusun tersebut.
Awalnya masyarakat Keprekan menggunakan bahan ijuk untuk membuat sapu.
Namun, proses pengolahannya yang rumit serta sulitnya mendapatkan bahan membuat para pengrajin beralih menggunakan rayung.
Sampai sekarang, kerajinan sapu rayung yang diwariskan secara turun-temurun masih terpelihara dan ditekuni oleh kurang lebih 40–50 perajin di dusun itu.
Julukan Dusun Keprekan sebagai kampung pengrajin sapu turut dikisahkan oleh Mugiyono, 62, warga asli yang juga menekuni kerajinan sapu rayung di dusun itu.
Menurutnya, dahulu sapu dibuat dari bahan ijuk dan serabut kelapa, namun bahan tersebut sulit dicari, proses pengerjaannya lama, dan serabut kelapa kering yang runcing berisiko melukai tangan.
Selain itu, sapu berbahan ijuk juga kurang diminati pasar, terutama ketika keramik mulai banyak digunakan.
Karena alasan itulah, para pengrajin beralih ke bahan rayung yang lebih mudah diperoleh, lebih cepat dibuat, meski daya tahannya relatif lebih singkat.
Sapu rayung merupakan jenis sapu yang memiliki ciri khas berwarna kuning kecoklatan, sedangkan bagian pegangan dibuat dari bahan bambu.
Dari sekian banyak pengrajin, Fahrudin menjadi salah satu yang aktif mempertahankan usaha turun-temurun ini melalui usahanya bernama Sapu Fahrudin.
Kesehariannya sekarang menjadi pengrajin sapu rayung.
Dalam sehari, jumlah produksi sapu rayung bisa bervariasi, mulai dari hanya satu hingga puluhan buah, tergantung pada pesanan yang masuk dan model kerajinan.
“Tergantung yang diproduksi ada yang 50 ada yang cuma dua, lima, sepuluh tergantung modelnya” ungkap fahrudin.
Pembuatan sapu rayung diawali dengan memilah bahan rayung.
Lalu mengikatnya pada gagang sapu, menambahkan anyaman enceng gondok untuk estetika, memperkuat ikatan dengan paku, serta melubangi ujung gagang sebagai cantolan.
Fahrudin menjelaskan bahwa hampir seluruh perajin di dusun tersebut mengandalkan rayung sebagai bahan utama.
Dipasok dari Purbalingga dan diolah menjadi aneka produk, termasuk sapu dan kerajinan dekoratif.
Khusus produk berwarna, serat rayung direndam dengan pewarna tekstil.
Ada pula bahan tambahan enceng gondok diperoleh dari Jepara sebanyak dua kuintal yang bisa digunakan selama satu tahun.
Sementara kebutuhan tali pengikat biasanya sekitar 3–5 kilogram yang dibeli di market place.
Fahrudin juga menambahkan proses produksi produk dekorasi rumah seperti hiasan cermin, memerlukan dua orang pengrajin dengan kapasitas produksi harian mencapai 10 pcs.
Pada produk kerajinan yang berwarna seperti hiasan cermin ini, pewarnaan dilakukan menggunakan bahan pewarna tekstil dengan cara direbus selama kurang lebih 30 menit, tergantung pada jenis warna yang digunakan.
Untuk warna hitam, proses perebusan membutuhkan waktu lebih lama, yaitu sekitar 1 jam.
Setelah proses pewarnaan selesai, produk tersebut masih harus dikeringkan di bawah terik matahari sebelum siap digunakan atau dipasarkan.
Harga produk kerajinan berbahan dasar rayung cukup beragam.
Mulai dari Rp 25.000 untuk sapu sederhana hingga Rp 200.000 untuk produk dekoratif seperti kap lampu.
Bahkan beberapa kerajinan khusus yang dipasarkan ke luar negeri bisa menembus harga Rp 400.000.
Ini menunjukkan bahwa karya pengrajin Dusun Keprekan tidak hanya diminati pasar lokal tetapi juga memiliki daya saing di tingkat internasional.
Dengan keterampilan turun-temurun dan inovasi yang terus dikembangkan, para perajin Dusun Keprekan berhasil menjaga warisan leluhur.
Sekaligus membuka peluang ekonomi baru, sehingga kerajinan sapu rayung dan produk kreatif lainnya mampu bertahan serta bersaing hingga ke pasar internasional. (mg6/mg3/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo