RADARMAGELANG.ID – Jalur Kereta Api (KA) penghubung Yogyakarta – Magelang yang berhenti beroperasi sejak Desember 1976 menyimpan banyak cerita sejarah.
Salah satu peninggalan yang masih bisa disaksikan hingga kini adalah jembatan kereta api yang membentang di atas Kali Pabelan, tepat di sisi timur jembatan jalan raya yang hingga kini beralih fungsi menjadi jalur trabasan bagi warga, baik pejalan kaki maupun pengendara sepeda dan sepeda motor.
Jembatan ini berada di daerah Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Jembatan ini dibangun oleh Naderlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada masa Kolonial Hindia Belanda, bersamaan dengan dibukanya jalur kereta sektor Yogyakarta – Magelang pada 1 Juli 1898.
Selama hampir delapan dekade, jalur ini menjadi urat nadi transportasi masyarakat, hingga akhirnya resmi ditutup pada tahun 1976 akibat okupansi penumpang yang terus menurun.
Lambannya laju kereta saat itu membuat masyarakat lebih memilih beralih ke moda transportasi lain.
Penutupan jalur ini juga dipengaruhi oleh rusaknya Jembatan Krasak di perbatasan Jateng–DIY akibat banjir lahar dingin Merapi pada masa Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).
Jembatan rel ini merupakan lintasan rel Yogyakarta - Secang - Kedungjati.
Lintasan rel yang terlihat saat ini tidak dilengkapi bug atau pagar pengaman di kedua sisi tepiannya.
Jika dulu masih bertumpu pada balok-balok kayu jati yang membujur dengan rapi yang dipadukan dengan batangan ataupun sirap anyaman bambu yang berfungsi sebagai dasar lintasan, sekarang jalur lintasannya sudah dicor oleh warga sehingga lebih aman dilalui.
Bahkan, lampu penerangan juga dipasang sehingga jembatan tetap bisa dilalui dengan nyaman pada malam hari.
Di kedua sisi jembatan yang membentang di atas tepian sungai, terdapat perpanjangan berupa gang sempit dari cor semen yang membelah perkampungan dan tembus hingga ke tikungan jalan raya di barat laut Monumen Bambu Runcing, Prumpung.
Meski banjir lahar dingin Merapi 2010 sempat merusak jembatan jalan raya di bawahnya, jembatan rel tetap tegak berdiri.
Di masa perbaikan jembatan jalan raya, lintasan rel ini justru berfungsi sebagai jalan alternatif bagi kendaraan roda dua.
Dengan panjang bentangan 43 meter, jembatan ini menjadi saksi bisu kejayaan perkeretaapian Magelang.
Konstruksinya khas peninggalan kolonial, dengan rangka baja lengkung yang ditopang oleh besi baja besar di sisi kanan dan kiri.
Struktur kokoh itu menghubungkan kedua tepian sungai dan hingga kini masih berfungsi dengan baik.
Relnya memang sudah lama hilang, namun rangka baja jembatan tetap kuat menopang. Kini, jembatan tersebut tidak hanya dilalui pejalan kaki, tetapi juga menjadi jalur alternatif sepeda dan sepeda motor.
Bagi warga sekitar, jembatan ini bukan sekadar akses trabasan antara Pabelan dan Prumpung, melainkan juga warisan sejarah yang pantas dijaga sebagai identitas Magelang. (diah natasya putri/aro)
Editor : H. Arif Riyanto