Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Pelukis Asal Portugal Nelson Ferreira Hadirkan Karya Menakjubkan Bangunan Candi Borobudur dan Hanya Bisa Dilihat Saat Gelap

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Rabu, 27 Agustus 2025 | 15:24 WIB

Karya pelukis asal Portugal Nelson Ferreira, Candi Borobudur Magelang yang hanya bisa dilihat dengan cahaya lampu.
Karya pelukis asal Portugal Nelson Ferreira, Candi Borobudur Magelang yang hanya bisa dilihat dengan cahaya lampu.

RADARMAGELANG.ID, Mungkid- Pelukis asal Portugal Nelson Ferreira melukis Candi Sewu, Prambanan, dan Candi Borobudur dengan teknik unik PlatiGleam.

Hasil karyanya tampak di pamerkan di Komplek Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu (24/8/2025) malam. 

Berbeda dari yang lain, hasil karya dari Nelson Ferreira ini hanya bisa dinikmati dengan cara berbeda.

Hasil karyanya hanya bisa dinikmati dengan cara menghidupkan flash handphone dan diarahkan ke karya tersebut, baru kelihatan karya tersebut berupa apa saja. 

Berdasarkan pengalaman Radar Magelang, usai mengarahkan flash handphone pada karya tersebut, tampak tiga bangunan candi. Yakni Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Candi Sewu.

Lukisan ini berubah tampilannya ketika dilihat dari sudut lain dan dengan intensitas cahaya yang berbeda. Lukisan ini bisa menghadirkan pengalaman visual yang imersif sekaligus kontemplatif. 

Seri lukisan yang dibuat di malam hari langsung dari pelataran Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Sewu ini tidak hanya menampilkan keindahan artistik semata, tetapi juga merefleksikan dimensi spiritual, keheningan malam, serta aura historis dari situs-situs bersejarah dengan media visual yang unik dan berbeda.

Lukisan nokturnal Nelson ini tampak menggabungkan antara kegelapan, cahaya, dan sebuah warisan.

“Di sini kita didorong untuk aktif dan cermat dalam melihat karya seni,” ungkap Natasha, salah satu tamu asal Jogjakarta yang hadir dalam opening kemarin. 

Ia mengaku, untuk melihat karya ini dengan jelas dan ada apa saja dalam karya tersebut, harus menggunakan senter atau flash pada handphone.

“Ketika berhasil mengarahkan cahaya ke kanvas, kita baru benar-benar bisa melihat setiap detail dan efek keindahan dalam karya tersebut,” ujarnya. 

“Benar-benar menakjubkan dan terkesan, apalagi ini saya juga baru pertama kali melihat hasil karya seperti ini, yang bisa menggambarkan antara bayangan dan sebuah hasil karya candi yang menakjubkan,” ungkap Natasha. 

Pelukis asal Portugal Nelson Ferreira menjelaskan, PlatiGleam secara harfiah berarti platinum yang berkilau.

Metode ini sepenuhnya mendefinisikan ulang bagaimana cahaya dan seni berinteraksi.

Tidak seperti lukisan tradisional, PlatiGleam tidak bergantung pada pigmen untuk menciptakan warna atau bentuk.

Sebaliknya karya ini, kata Nelson, menggunakan permukaan yang diperlakukan secara khusus yang secara aktif menangkap, membiaskan, dan memantulkan cahaya.

Ia menceritakan, dalam membuat lukisan ini, dilakukan pada malam hari dengan menggunakan senter di kepala seperti penambang.

Dia saat melukis menggunakan tiga jenis bahan kimia yang berbeda dan saat diaplikasikan di air terlihat hitam.

"Baru ketika kering warnanya muncul. Jadi saya melukis hampir seperti buta karena ketika melukis semuanya terlihat hitam. Sangat sulit melihat bentuk-bentuknya. Baru setelah kering saya bisa melihat apa yang ada di sana," ujarnya.

Nelson Ferreira mengaku, ketertarikannya untuk melukis situs-situs cagar budaya ini adalah untuk kembali menghormati dan memunculkan karya-karya monumental dari masa lalu.

Menurutnya, ada keterpisahan antara peninggalan peradaban masa lalu dengan seni kontemporer saat ini, terutama di museum-museum Eropa.

“Saya mencoba menghubungkan kembali antara dunia spiritualitas dan dunia seni kontemporer. Saat ini, keduanya benar-benar terpisah. Jika Anda pergi ke museum seni kontemporer, mereka justru mengejek spiritualitas, agama-agama tradisional, serta mengabaikan budaya kuno. Sebagian besar museum tidak menemukan hal yang menarik di sini. Saya mencoba menghubungkan kembali keduanya, karena peninggalan heritage merepresentasikan nilai-nilai kemanusiaan yang pernah dihasilkan generasi terdahulu,” jelas Nelson Ferreira. 

Sementara itu, Commercial Group Head PT Taman Wisata Borobudur AY Suhartanto mengatakan bahwa pameran lukisan ini merupakan tindak lanjut dari program Twin World Heritage antara Candi Borobudur dengan Monastery Batalha Portugal. 

“Kerja sama ini menekankan pada upaya pelestarian situs-situs heritage melalui pertukaran budaya antara kedua belah pihak, termasuk membuka ruang penciptaan seni yang menghadirkan perspektif baru dan segar, bukan hanya bagi destinasi semata, melainkan juga ekosistem seni di Indonesia,” jelasnya.

Nantinya ketiga lukisan ini, juga akan dipamerkan di Museum dan Kampung Seni Borobudur. Pameran mulai 9 September sampai 9 Oktober. (rfk) 

Editor : H. Arif Riyanto
#candi borobudur #lukisan