RADARMAGELANG.ID, Mungkid ─ Air bersih merupakan kebutuhan mutlak bagi kehidupan manusia. Namun, tidak semua masyarakat Indonesia menikmati akses terhadap air layak konsumsi, khususnya di wilayah pedesaan.
Dusun Nerangan, Desa Kajoran, Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang, misalnya, masih mengandalkan air permukaan yang ditampung di bak penampungan.
Sayangnya, hasil uji laboratorium menunjukkan kadar bakteri Coliform mencapai 200 MPN/100 mL, jauh di atas batas aman yang ditetapkan Permenkes No. 2 Tahun 2023, yaitu 0 MPN/100 mL.
Kondisi ini mendorong Dwi Zulaikha mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tidar (Untidar) melakukan riset sederhana namun berdampak. Yakni dengan memanfaatkan teknologi biofilter bioball sebagai media penyaring dan Python sebagai alat bantu analisis data. Penelitian didampingi 2 dosen pembimbing, Ir. Muhammad Amin, S.T., M.T., IPM dan Ir. Herlita Prawenti, S.T., M.T.
“Saya ingin membuktikan bahwa solusi air bersih tidak harus mahal atau rumit. Dengan pendekatan sederhana seperti bioball dan analisis Python, kita bisa hasilkan metode yang akurat, hemat biaya, dan bisa diterapkan langsung di masyarakat desa,” ujar Dwi Zulaikha.
Kombinasi pendekatan teknik sipil dan komputasi ini terbukti mampu menurunkan kadar Coliform hingga 100 persen dalam kondisi optimal. Adapun susunan media dalam proses filtrasi ini yaitu kerikil dengan ukuran 10-12 mm sebagai lapisan dasar dan penyangga setebal 10 cm.
Kemudian, pasir silika setebal 5 cm yang berfungsi untuk menyaring partikel halus dan meningkatkan kejernihan air. Setelah itu, untuk lapisan utamanya berupa media bioball sebagai media biofilter untuk berkembangnya mikroorganisme pengurai bakteri Coliform.
Penelitian ini menggunakan sistem filtrasi dengan variabel ketebalan media (13 cm, 16 cm, dan 19 cm), debit aliran 1,16 l/detik dan 1,38 l/detik, dan waktu kontak (24 jam, 48 jam, dan72 jam). Penelitian ini dilakukan dengan dua variasi yaitu tanpa media bioball dan menggunakan media bioball.
Hasil penurunan yang diperoleh tanpa menggunakan media bioball hanya mencapai 21 MPN/100 mL. Sedangkan, dengan menggunakan media bioball, hasil terbaik diperoleh saat menggunakan media bioball setebal 19 cm dengan waktu kontak 24–48 jam, yang berhasil menghilangkan bakteri Coliform sepenuhnya.
Menariknya, ketika waktu kontak diperpanjang hingga 72 jam, muncul gejala re-growth bakteri, menandakan pentingnya pengaturan waktu filtrasi.
Pengolahan data menggunakan Python memberikan keunggulan dalam hal akurasi dan efisiensi. Analisis menggunakan Python ini menunjukkan koefisien determinasi R² sebesar 0,761, dengan uji F signifikan (p < 0,05).
Dengan memanfaatkan pustaka seperti pandas, numpy, dan statsmodels, peneliti dapat menjalankan uji regresi linear berganda, uji normalitas, hingga prediksi visualisasi hasil filtrasi dengan presisi tinggi.
Python terbukti lebih unggul dibandingkan metode manual maupun SPSS, terutama dalam menghasilkan alur kerja yang reproducible dan mudah divalidasi.
Menurut dosen pembimbing. Ir. Muhammad Amin, S.T., M.T., IPM., pendekatan ini sangat relevan untuk diterapkan di lapangan.
“Kombinasi antara teknologi sederhana dan komputasi berbasis Python menunjukkan bagaimana mahasiswa bisa menjawab persoalan masyarakat dengan solusi ilmiah yang aplikatif,” jelasnya.
Sementara itu dosen Ir. Herlita Prawenti, S.T., M.T., menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam pendidikan teknik sipil.
“Saya melihat penelitian ini sebagai bentuk integrasi nyata antara rekayasa lingkungan dan pengolahan data modern. Ini yang harus terus dikembangkan oleh mahasiswa di era digital,” ungkapnya.
Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada ilmu teknik sipil, tapi juga memberikan solusi aplikatif untuk pengolahan air bersih di masyarakat pedesaan. Biofilter bioball menawarkan teknologi sederhana, murah, dan efisien yang dapat diimplementasikan secara lokal.
Sementara itu, Python membuktikan bahwa pendekatan komputasional mampu mengubah cara kita memahami data ilmiah—lebih cepat, akurat, dan transparan.
Sudah saatnya pendekatan interdisipliner seperti ini menjadi arus utama dalam pengelolaan air di Indonesia. Dengan teknologi sederhana dan semangat inovasi, kita bisa wujudkan air bersih yang aman dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. (web/ima/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo