RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Festival Lima Gunung XXIV yang diselenggarakan Komunitas Lima Gunung kali bertema Andhudhah Kawruh Sinengker. Digelar di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang sejak 9 Juli hingga 13 Juli 3035.
Ketua Komunitas Lima Gunung, Sujono mengatakan, Festival Lima Gunung tahun ini bersamaan dengan rangkaian acara Suran dari Padepokan Tjipto Boedaja, Tutup Ngisor.
Penyelenggaraan tradisi Suran Tutup Ngisor oleh keluarga besar Padepokan Tjipto Boedaja Tutup Ngisor berdasarkan kalender Jawa setiap 15 Sura, bertepatan perhitungan munculnya bulan purnama.
Padepokan Tjipto Boedaja, salah satu basis Komunitas Lima Gunung (Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh).
“Sehingga untuk rangkaian Festival Lima Gunung kali ini kita kaitkan dengan rangkaian acara Suran. Apalagi dari teman-teman Komunitas Lima Gunung lainnya, juga mendorong agar Festival Lima Gunung dan tradisi Suran Tutup Ngisor kita gabung.
Sehingga Festival Lima Gunung XXIV ini kita laksanakan selama lima hari, dari 9 hingga 13 Juli,” jelasnya usai rangkaian pembukaan Festival Lima Gunung, Jumat (11/7/2025).
Kegiatan Suran dan FLG berupa 93 mata acara, baik bersifat sakral dan ritual wajib, maupun pementasan kesenian. Total penampil sekitar 1.826 orang, baik pegiat komunitas, keluarga besar padepokan, kelompok-kelompok kesenian warga dusun dan sekolah sekitar lokasi festival di Kabupaten dan Kota Magelang.
“Para peserta seniman ini, berasal dari Magelang, Pekalongan, Semarang, Jogjakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Riau ada juga yang dari luar negeri yakni dari Prancis, dan Jepang,” jelasnya lebih lanjut.
Pengisi kegiatan berasal dari berbagai daerah hingga mancanegara. Pada Festival Lima Gunung kali ini, Sujono, mengungkapkan instalasi utama festival berupa patung Ganesha dari anyaman bambu.
Patung ikonik ini dibuat dari 50 batang bambu apus, 15 batang bambu petung, dan 600 brongsong kelengkeng sebagai lapisan akhir.
Patung ini melambangkan Ganesha sebagai simbol ilmu pengetahuan. Sujono menjelaskan, yang biasanya Ganesha memegang senjata seperti trisula, kali ini, Ganesha merupakan versi Lima Gunung. Ganeshanya memegang cangkul, bendo, ada juga kendi, dan padi.
Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji yang juga hadir pertama kali pada pembukaan Festival Lima Gunung mengatakan, event ini luar biasa. Menunjukkan, bahwa event budaya di Kabupaten Magelang masih hidup.
“Saya sangat mengapresiasi yang setinggi-tingginya kepada pegiat Lima Gunung, seluruh budayawan, masyarakat, tokoh masyarakat. Kami berharap kedepan Festival Lima Gunung ini, bisa lebih meriah dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap, melalui event-event seperti Festival Lima Gunung ini, dapat meningkatkan kesadaran berbudaya dan juga kebudayaan semakin tumbuh berkembang di era modern saat ini.
Grengseng juga menilai, Festival Lima Gunung bisa mengajak setiap insan secara perseorangan maupun naluri sosialnya menggali dan membongkar pustaka nilai dan makna tentang kearifan lokal, kebijakan, dan ilmu kehidupan berkedalaman yang tersimpan dalam memori budaya sebagai warisan peradaban.
Tema Festival Lima Gunung XXIV menurut budayawan Sutanto Mendut dipandang sebagai hadir pada waktu dan tempat yang pas, terutama karena kehidupan menghadapi disrupsi, serba gonjang-ganjing, dan serasa tak ada juntrungan.
Situasi itu, dialami siapa saja, baik secara personal maupun sosial kemasyarakatan, lingkungan alam, bangsa, dan negara.
"Semakin sulit menemukan kebenaran, ini era pasca-kebenaran. Influencer (pemengaruh) dan buzzers (pengikut) itu peranan kabur," ucapnya. (rfk/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo