RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Pelatihan di UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Magelang banyak diminati masyarakat. Terbukti, ketika dibuka pelatihan, ribuan orang mendaftar. Namun karena kuota terbatas, peserta harus diseleksi melalui tes tertulis dan wawancara.
Antusiasme tinggi dari masyarakat Kabupaten Magelang untuk mengikuti pelatihan tidak lepas dari manfaat yang diperoleh.
Peserta mendapatkan bekal keterampilan atau skill yang berguna untuk bekerja di industri maupun usaha mandiri. Diharapkan dengan keterampilan akan berimbas pada kesejahteraan masyarakat.
Pelatihan yang diadakan BLK Kabupaten Magelang berasal dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2025. Dana DBHCHT tersebut diperuntukkan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinnaker) direalisasikan dalam berbagai program pelatihan yang diselenggarakan BLK.
Tahun ini total 21 paket kegiatan pelatihan. Terdiri dari 13 paket institusional, 5 paket mobile training unit (MTU) dan 3 paket PMJ.
Pelaksanaan kegiatan pelatihan di BLK dibagi menjadi 2 metode. Yakni kegiatan institusional yang dilakukan di dalam BLK dan mobile training unit (MTU). Untuk MTU dilaksanakan di desa-desa yang telah ditentukan.
Menurut Plt Kepala UPTD BLK Kabupaten Magelang Galih Dian Kusuma, pelatihan institusional pada tahun ini terdiri dari 11 kejuruan.
Yaitu barbershop, barista, batik tulis dan ecoprint, yang masing-masing ditempuh dalam 90 jam latihan.
Lalu, instalasi tenaga, menjahit, teknisi HP, prosesing hasil pertanian (PHP) yang masing masing waktunya 200 jam latihan.
Selain itu, kejuruan mesin bubut, las listrik dan otomotif sepeda motor, masing-masing 360 jam latihan. Untuk 360 jam latihan adalah pelatihan pra magang Jepang.
Gelombang pertama pelatihan dimulai pada 6 Mei 2025 yang meliputi 11 kejuruan tersebut. Peralatan dan bahan-bahan untuk keperluan pelatihan telah disediakan.
Dalam pelatihan tersebut, tiap kelas terdiri dari 16 orang. Peserta dilatih keterampilan tingkat dasar. “Jadi benar-benar dari nol, sampai akhirnya punya kemampuan atau skill yang dapat dikembangkan,”tutur Galih ketika ditemui di kantornya, Selasa (24/6/2025).
Diharapkan dengan pelatihan ini, peserta memiliki bekal keterampilan untuk bekerja di industri maupun usaha mandiri. Menurutnya sampai saat ini 70 persen lulusan BLK terserap pasar maupun usaha mandiri.
Banyak lulusan BLK yang sukses menjalankan usaha sendiri. Misalnya membuka usaha jahit, jasa teknisi mesin, teknisi HP, maupun katering. Tak heran, bila pelatihan di BLK selalu disambut antusias masyarakat.
Sementara pelatihan dengan model MTU, sistemnya jemput bola ke desa-desa. Pelatihan MTU sasarannya desa dengan kemiskinan ekstrem.
Keterampilan yang diajarkan sesuai kebutuhan warga setempat. Misalnya pelatihan menjahit, pesertanya adalah ibu-ibu PKK.
“Peserta pelatihan yang menentukan pihak desa setempat. Berlangsung selama 5 minggu atau 200 jam pelatihan. Mulai hari Senin sampai Sabtu,”imbuhnya.
Tahun ini pelatihan MTU berlangsung di Desa Bumirejo Kecamatan Mungkid, Desa Tempak Kecamatan Candimulyo, Desa Tampingan Kecamatan Tegalrejo, Desa Candirejo Kecamatan Borobudur dan Desa Krincing Kecamatan Secang.
“Pelatihan berlangsung di desa karena tidak memungkinkan peserta datang ke BLK. Sehingga kami fasilitasi dengan datang ke desa-desa yang dipilih,”imbuh Galih yang juga instruktur menjahit tersebut.
Diharapkan warga desa setempat akan memiliki bekal keterampilan untuk bekerja sehingga bebas dari kemiskinan. (lis)
Editor : Lis Retno Wibowo