Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Rencana Tagline "Program Bali Baru" Ancam Punahnya Lokalitas Budaya Candi Borobudur Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Kamis, 26 Juni 2025 | 01:11 WIB
Sarasehan nasional bertajuk Pariwisata Berbasis Identitas dan Budaya Lokal yang digelar di Taman Lumbini Taman Wisata Borobudur.
Sarasehan nasional bertajuk Pariwisata Berbasis Identitas dan Budaya Lokal yang digelar di Taman Lumbini Taman Wisata Borobudur.

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Pengembangan Taman Wisata Borobudur, Kabupaten Magelang masih menjadi perhatian bagi warga lokal Borobudur.

Mereka masih mempertanyakan, mau dibawa ke arah mana pengembangan Taman Wisata Borobudur ini? Apalagi dengan rencana adanya tagline Program Bali Baru.

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Nusa Tenggara Barat Amri Nuryadin mengatakan, Program Bali Baru yang menyeragamkan paradigma pariwisata, mengancam punahnya unsur lokalitas budaya.

Wisata, kata dia, hanya mengedepankan kepentingan investor dan mengabaikan pengelolaan berbasis masyarakat. 

“Kami di Lombok ada problem. Menyeragamkan (wisata) menjadi satu konsep, satu proyek, dan program strategis nasional dengan istilah Bali Baru, itu menjadi keresahan kita di masing-masing daerah,” kata Amri Nuryadin saat sarasehan Festival Tridaya Mandala Borobudur yang digelar di Taman Lumbini Taman Wisata Borobudur, Selasa (24/6/2025) malam.

Baca Juga: Pemkab Magelang Mengusulkan Kuota Naik ke Candi Borobudur Magelang Ditambah, Begini Usulannya

Kegiatan sarasehan nasional bertajuk Pariwisata Berbasis Identitas dan Budaya Lokal ini diinisiasi oleh Komunitas Pemuda Kecamatan Borobudur, Mahajava Aksata.

Hadir pemuda perwakilan destinasi wisata Program Bali Baru, yakni: Danau Toba, Mandalika, Pulau Komodo, dan Candi Borobudur.

Amri Nuryadin berharap, forum serupa dapat menghasilkan solusi membangun destinasi wisata tanpa memingirkan hak-hak dasar warganya.

“Dalam jaringan ini kita carikan solusinya. Sehingga wisata tidak justru meminggirkan hak-hak dasar warga yang ada di sekitarnya,” ujarnya.

Baca Juga: Ini Penampakan Stairlift dan Rem, Fasilitas Tambahan di Candi Borobudur Magelang untuk Kunjungan Presiden Prancis Macron dan Presiden Prabowo

Narasumber lain, Anggota Dewan Ruang Inisiatif Toba Masro Delima Silalahi menuturkan, pelaksanaan Program Bali Baru di Danau Toba tidak semulus yang dibayangkan masyarakat saat dulu proyek besar pemerintah itu direncanakan.

Di Danau Toba misalnya, kata dia, pembangunan infrastruktur pariwisata secara besar-besaran mengesampingkan kepentingan komunitas lokal. 

Alih fungsi lahan, konflik kepemilikan tanah, serta meruncingnya persaingan antar pengelola wisata, mengancam kearifan lokal warga Toba. 

“Kami sharing, berbagi pengalaman. Dulu kami sudah terhipnotis dengan ilusi Bali Baru tersebut. Pengalaman kita itu menjadi pembelajaran bagi semuanya. Khususnya Borobudur. Karena konsep (pariwisata)-nya sama sebenarnya,” kata Delima.

Humas Festival Tridaya Mandala Borobudur Dwias Panghegar mengatakan, acara ini memberikan ruang kepada para pemuda agar lebih semangat mengembangkan potensi wisata dan kesenian.

Baca Juga: Viral! Candi Borobudur, Bangunan Cagar Budaya, Dipasang Eskalator untuk Menyambut Presiden Prancis dan Prabowo

Menurut dia, kerajinan yang menonjolkan identitas lokal akan dikelola secara berkelanjutan, sehingga memberikan keuntungan langsung bagi warga Borobudur.   

“Kami memberikan ruang seni untuk mereka (pemuda) tampil. Mengembangkan kesenian yang memiliki identitas lokal yang nantinya bisa dikembagkan secara berkelanjutan,” kata Dwias Panghegar. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#candi borobudur #program bali baru #Taman Lumbini #pulau komodo #mandalika #danau toba