RADARMAGELANG.ID, Magelang – Tidak ada perubahan jadwal keberangkatan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng Koridor Terminal Borobudur-Stasiun Kutoarjo selama Ramadan.
Bus mulai beroperasional pukul 05.00 sampai 17.00.
“Saat ini masih sama. Jadwal akan berubah saat H-1 dan hari H Idul Fitri,” kata Bagian Administrasi Kasir BRT Trans Jateng Koridor Borobudur-Kutoarjo Rahmawati Agustine, Minggu (2/3/2025).
Begitu pun dengan tarif sekali naik Trans Jateng.
Tidak ada perubahan.
Bagi pelajar, mahasiswa, buruh, dan veteran ditarik Rp 2.000. Sedangkan umum dan wisatawan Rp 4.000 untuk sekali perjalan.
Pengamatan Jawa Pos Radar Magelang, bus Trans Jateng telah dilengkapi informasi lengkap yang ditempel di kaca samping kanan.
Pengunjung dapat membaca ketentuan tarif yang diberlakukan.
Misalnya untuk tarif pelajar, penumpang harus berseragam sekolah dan menunjukkan kartu tanda pelajar.
Bagi mahasiswa S1, harus menggunakan pakaian rapi dan menunjukkan kartu tanda mahasiswa. Sementara untuk buruh, harus menggunakan seragam, menunjukkan ID Card asli, menunjukkan kepesertaan BPJS Kesehatan/BPJamsostek.
Tarif-tarif tersebut tidak berlaku setiap hari.
Khusus di akhir pekan (Minggu) dan hari libur nasional, tarif yang berlaku hanya untuk umum dan veteran.
Artinya, pada hari Minggu tidak berlaku tarif untuk pelajar, karena bukan hari sekolah.
Asisten sopir atau pramujasa salah satu bus Trans Jateng mengatakan, anak-anak yang menaiki bus Trans Jateng akan diberlakukan tarif umum ketika mereka menaiki bus di luar hari sekolah.
Ketentuannya ini berlaku untuk anak umur 3 tahun ke atas atau tinggi badannya di atas 90 centimeter.
“Ya, mereka wajib memiliki tiket,” ujarnya.
Begitu pula dengan penumpang yang membawa barang.
Dikenakan tarif sesuai ketentuan.
Barang bawaan dengan dimensi rata-rata 50 x 30 x 30 sentimeter, maka dikenakan tarif umum bisa melebihi dimensi di tas rata-rata.
Karena itu, jangan kaget bila penumpang membawa tas besar maupun koper akan dikenakan tarif umum atau Rp 4.000 untuk setiap barang.
Pramujasa tersebut juga memberikan struk tiket kepada setiap penumpang yang naik.
Bahkan jika pramujasa tidak memberikan struk tiket, penumpang berhak naik Trans Jateng secara gratis.
Penumpang juga berhak melaporkan pramujasa Trans Jateng apabila petugas tidak memberikan tiket atau memberi tiket tidak sesuai kategori tarif, tanggal, dan jam saat naik.
Pengelola bus telah mencantumkan nomor layanan pelaporan.
Menariknya lagi, pramujasa menjelaskan bahwa desain interior atau layout dalam bus Trans Jateng Koridor Borobudur berbeda dengan yang lainnya.
Kursi penumpang Trans Jateng rute Borobudur-Kutoarjo menghadap ke depan, dan tidak ada yang saling berhadap-hadapan seperti Trans Jateng yang lainnya.
“Semua kursi menghadap kedepan untuk melindungi penumpang, karena rute Borobudur-Kutoarjo melalui jalan yang berliku, dan naik turun,” terangnya.
Selain itu, tempat duduk penumpang bus dibedakan berdasarkan gender.
Penumpang bus laki-laki berada di barisan kursi depan, sementara penumpang perempuan ditempatkan di belakang.
“Kami pisah semata-mata untuk melindungi penumpang perempuan dari pelecehan,” imbuhnya.
Sekalipun penumpang tersebut merupakan anggota keluarga, seperti suami-istri, maka tempat duduknya harus berpisah.
Menurutnya, penumpang tidak ada yang keberatan dengan hal ini.
Bahkan penumpang laki-laki menyadari jika ada kursi kosong di barisan perempuan, mereka memilih tetap berdiri.
Diketahui, bus Trans Jateng Koridor Borobudur akan menempuh perjalanan dari Terminal Borobudur ke Terminal Kutoarjo selama 1 jam 40 menit.
Bus ini berkapasitas 20 penumpang duduk dan maksimal 40-an penumpang jika ada yang berdiri. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto