Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Bajong Banyu, Tradisi Perang Air Sambut Ramadan di Banjarnegoro Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Senin, 24 Februari 2025 | 06:55 WIB

 

Warga tampak gembira mengikuti tradisi Bajong Banyu di Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Minggu (23/2/2025).
Warga tampak gembira mengikuti tradisi Bajong Banyu di Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Minggu (23/2/2025).
 RADARMAGELANG.ID, Mungkid-- Warga Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang memiliki cara tersendiri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Mereka melaksanakan tradisi unik yang dinamai Bajong Banyu alias perang air.

Tri Setyo Nugroho atau akrab disapa Gepeng, salah satu tokoh masyarakat Dusun Dawung mengatakan, Bajong Banyu merupakan tradisi tahunan menjelang bulan suci Ramadan yang sudah digelar 11 kali. 

“Ini merupakan tradisi dari nenek moyang kita, yaitu padusan. Ala-ala padusan, kita ya gitu bermain air, senang-senangan, perang air begitu. Dan ini kita konsep agar anak-anak dan semua orang bisa menikmati serta merasakan kegembiraan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Minggu (23/2/2025).

Gepeng berharap, kegiatan tradisi ini diharapkan bisa menjadi event pariwisata budaya rutin setiap tahun, dan harapannya juga bisa disambut baik oleh warga sekitar.

Dalam tradisi tersebut, masyarakat bukan mandi bersama di sebuah mata air.

Tetapi mereka saling melempar air ke badan orang lain sebagai simbol untuk membersihkan diri yang dilaksanakan di sebuah tanah lapang.

Prosesi diawali dengan pengambilan air oleh tokoh masyarakat dan perangkat desa setempat di Sendang Dawung yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi digelarnya atraksi Bajong Banyu.

Untuk tahun ini, karena debit air sendang mengkhawatirkan, pihaknya mengupayakan penghijauan di sekitar sendang tersebut.

“Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika hampir semua tokoh dan perangkat desa mengambil air, tetapi saat ini hanya diwakili satu sesepuh,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini waktunya memberi pada alam alias penghijauan yang dilakukan dengan menanam bibit pule sebagai simbol tanaman obat dan kerajinan, serta bibit tanaman yang sudah langka, yakni bibit kedawung. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#perang air #ramadan #tradisi #Kabupaten Magelang #Banjarnegoro Mertoyudan