RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Sepanjang 2024 atau tahun sebelumnya, bencana alam yang kerap melanda wilayah Kabupaten Magelang adalah tanah longsor.
Menurut data BPBD Kabupaten Magelang, tercatat ada 214 kejadian tanah longsor.
Terutama pada musim penghujan.
“Hal ini harus diwaspadai oleh semua pihak, karena dapat mengakibatkan risiko yang tak terduga dan berdampak luas bagi masyarakat. Setiap desa yang memiliki potensi terjadinya bencana alam tersebut, perlu memiliki mitigasi bencana alam yang berarti,” kata
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) Dr Kanthi Pamungkas Sari, MPd.
Pengabdian kepada masyarakat ini bertema “Penguatan Mitigasi Bencana Alam melalui Pemberdayaan Organisasi Pengurangan Risiko Bencana (OPRB) yang digelar di Desa Kalisalak, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai Program Hibah RisetMu Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 7 -8 Februari 2025 lalu.
Dikatakan, tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah penguatan mitigasi bencana alam melalui pemberdayaan Organisasi Pengurangan Risiko Bencana (OPRB) Desa Kalisalak.
Kegiatan ini meliputi dua aspek, yaitu manajemen organisasi dan sistem teknologi
“Kami menyambut sangat baik dan antusias kegiatan ini. Desa Kalisalak sebagian besar dari wilayahnya memiliki morfologi tanah pegunungan dan lereng yang curam, sehingga desa tersebut termasuk rawan terhadap bencana tanah longsor,” ujar Ketua OPRB Katana Desa Kalisalak Abdul Mukti.
Dikatakan, kondisi morfologi tanah yang demikian berpotensi sebagai penyebab utama terjadinya gerakan tanah yang dapat menimbulkan bahaya tanah longsor.
“Apalagi jika kondisi tanah yang berkembang kurang padat dan tebal dengan curah hujan yang tinggi akan mendorong terjadinya gerakan tanah yang bisa terjadi sewaktu-waktu,” jelasnya.
Selanjutnya ia menyampaikan hampir di setiap musim hujan, terjadi tanah longsor dengan intensitas pada rentang menengah sampai dengan tinggi.
Menurut Abdul Mukti, ada 15 titik tanah yang rawan longsor, atau kurang lebih 60 persen dari wilayah Desa Kalisalak memiliki titik rawan longsor.
“Rata-rata tanah longsoran menimbun lahan pertanian, rumah serta sebagian menutup akses jalan desa,” katanya.
Jika hal tersebut tidak diatasi secara sistemik, kata Abdul Mukti, maka akan semakin meningkat kerugiannya, bahkan akan membahayakan bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Pada manajemen organisasi diberikan materi peningkatan kesadaran masyarakat Desa Kalisalak untuk mendukung mitigasi bencana berbasis social responsibility dalam kegiatan OPRB.
Materi tentang kajian risiko bencana dan Desa Tangguh Bencana disampaikan oleh Ns Margono, M.Kep, anggota tim sekaligus pakar kegawatdaruratan bencana.
Pada aspek sistem teknologi, anggota OPRB diajak untuk mempraktikan secara langsung Vertiver Grass System (VGS) sebagai alternatif mitigasi bencana alam tanah longsor.
Ada empat titik di Dusun Basongan yang digunakan sebagai lokasi VGS, semuanya merupakan tanah dengan kemiringan curam dan jika hujan deras sangat berpotensi terjadi longsor.
Dikatakan Ns Margono, VGS dipilih karena manfaatnya yang besar, seperti memperbaiki struktur tanah dengan akar dalam hingga 3-4 meter, tahan kekeringan, serta efektif untuk stabilisasi lereng dan penyaring sedimen.
“Selain itu, Vertiver cocok untuk mitigasi bencana hidrometeorologi karena memiliki akar yang luas, dalam, dan kuat, tumbuh cepat dengan biomassa tinggi, adaptif terhadap kondisi ekstrem, mudah dibudidayakan, dan tidak berisiko menjadi gulma,” bebernya. (web/ima)
Editor : H. Arif Riyanto