Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Selama 2024, Tanah Longsor Terjadi di 214 Lokasi di Kabupaten Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Sabtu, 4 Januari 2025 | 05:30 WIB
Bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang pada Desember 2024 lalu.
Bencana tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang pada Desember 2024 lalu.

RADARMAGELANG.ID, Mungkid-- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mencatat ada sebanyak 455 kejadian bencana alam maupun non alam selama 2024.

Menurut Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Magelang Edi Wasono, bencana tersebut didominasi kejadian tanah longsor dan cuaca ekstrem. Di mana seluruhnya tersebar di 372 desa yang ada di 21 kecamatan dalam kurun waktu Januari sampai Desember.

“Seluruh kejadian bencana di Kabupaten Magelang didominasi bencana hidrometeorologi basah seperti tanah longsor dan angin kencang," ujar Edi kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Berdasarkan jenisnya, tanah longsor menjadi bencana alam yang paling sering melanda sepanjang 2024. Tercatat ada 214 kejadian tanah longsor di Kabupaten Magelang. Disusul, cuaca ekstrem mencapai 138 kejadian, dan kebakaran bangunan sebanyak 51 kejadian.

Kejadian lainnya seperti rumah roboh, kecelakaan air dan kejadian non alam lainnya sebanyak 28 kasus. Berikutnya, bencana banjir sembilan kejadian, serta kekeringan dan kebakaran hutan lahan masing-masing sembilan dan empat kejadian.

Edi menyebutkan, dari seluruh kejadian bencana tersebut mengakibatkan kerusakan rumah dengan kategori rusak ringan hingga berat. Selain itu terdapat korban jiwa meninggal dan luka-luka.

“Rinciannya, 239 rumah rusak ringan, 45 rumah rusak sedang, dan 15 rumah rusak berat. Sedangkan korban jiwa terdapat 11 orang luka-luka dan dua orang meninggal dunia," rincinya.

Dari data yang dihimpun BPBD Kabupaten Magelang, wilayah yang paling sering dilanda bencana adalah Kecamatan Salaman, Borobudur, dan Sawangan. Menurut Edi, hal itu disebabkan kondisi geografis di wilayah tersebut.

“Itu merupakan wilayah dengan jumlah frekuensi kejadian paling tinggi di Kabupaten Magelang. Berdasarkan kajian memang masuk kawasan rawan bencana," katanya.

Ia mengaku sudah melakukan upaya-upaya mitigasi baik struktural maupun non struktural selama setahun terakhir dan akan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya.

Sosialisasi dan edukasi tentang rawan bencana kepada masyarakat terus dilakukan. Selain itu, pemasangan EWS (Early Warning System) tanah longsor juga sudah dilakukan. Juga penanaman rumput vetiver. "Upaya-upaya tersebut akan terus kami lanjutkan," jelas Edi.

Ia mengingatkan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana agar selalu waspada. Kewaspadaan harus terus dilakukan hingga puncak musim hujan yang diproyeksikan jatuh pada Februari 2025.

"Warga juga diimbau untuk memperhatikan keselamatan diri dan selalu waspada akan potensi bencana yang bisa saja terjadi, apalagi di saat memasuki musim penghujan," katanya. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#tanah longsor #bencana alam #BPBD Kabupaten Magelang