RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Warga Bojong, Kabupaten Magelang, antusias mengikuti Festival Naliko Semono, Minggu (8/12/2024).
Sebuah acara untuk merefleksi perjalanan dari masa ke masa Desa Bojong.
Bojong merupakan sebuah desa di Kecamatan Mungkid.
Desa ini masih dikenal sebagai pusat kerajinan sapu rayung.
Sapu rayung telah menjadi ikon Desa Bojong sedari dulu.
Salah satu pegiat seni yang terlibat dalam acara ini adalah Arif Hermawan.
Ia juga perajin sapu rayung.
Kata Arif, acara ini untuk membangkitkan kenangan di Desa Bojong, supaya generasi mudanya tak melupakan perjuangan para pendahulu.
Karena selain lihat membuat kerajinan sapu, warga Bojong juga ahli dalam perikanan.
“Perikanan menjadi salah satu kegiatan masyarakat Bojong dari dulu sampai sekarang, karena air melimpah,” tutur Arif kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Warga di desa ini juga mayoritas bertani.
Pertanian di Desa Bojong terbilang unik.
Masih banyak yang menggunakan alat pertanian tradisional, seperti ani-ani, tomblok, cangkul, dan lainnya.
Uniknya, kondisi Desa Bojong yang dikenal dalam menciptakan makanan olahan bahan ikan ditemukan pada relief Candi Borobudur. Relief itu berbentuk ikan.
Warga Desa Bojong juga memiliki dapur masak yang disebut pawon.
Menurut cerita, pawon menjadi pusat kegiatan warga mengolah makanan tradisional olahan dari singkong.
Produk olahan singkong yang dikenal di desa ini adalah cenil.
“Melalui acara ini, kami ingin melestarikan budaya yang tersambung dengan relief candi atau (membangun) ekosistem kebudayaan,” ujarnya.
Kegiatan ini juga untuk menindaklanjuti program dari Kemendikbud Ristek tentang potensi budaya desa.
Dalam acara ini, kegiatan dibuka dengan kirab budaya yang dimulai dari Polindes menuju lokasi pasar budaya di Pendopo K.H.R Abdul Aziz / K.H.R Chabibulloh di Dusun Legoksari.
Pendopo yang punya nilai sejarah, pernah menjadi kantor bupati Magelang pada 1948. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto