RADARMAGELANG.ID, Magelang – Sebagai bentuk konservasi alam dan melestarikan tradisi, warga Perbukitan Menoreh Kabupaten Magelang menggelar tradisi kawin bambu.
Warga mengarak keliling desa benih bambu dan gunungan yang berisi hasil bumi.
Tradisi ini digelar di Dusun Tegalombo, Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.
Setelah melakukan prosesi tanam bibit pohon bambu, gunungan hasil bumi itu pun jadi rebutan warga yang ingin mendapatkan berkah.
Kepala Desa Ngargoretno Dodik Suseno mengatakan, bambu yang dulu dipandang sebagai tanaman tidak bernilai jual, kini dikembangkan menjadi bahan baku ekonomi kreatif yang dapat memberikan pemasukan bagi warga desanya.
“Bambu ini kita hidupkan kembali. Selain untuk mencegah bencana alam, bambu juga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan peningkatan ekonomi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Dikatakan, bagi warga lereng Perbukitan Menoreh, awalnya bambu dianggap gulma atau tanaman pengganggu.
Namun saat ini bambu menjadi tanaman penting untuk konservasi alam.
Salah satunya untuk sumber mata air dan mencegah longsor.
“Sedangkan filosofi tradisi kawin bambu yakni bambu ini diharapkan bisa beranak pinak di kawasan lereng Perbukitan Menoreh,” jelasnya.
Menurut Dodik, warga Desa Ngargoretno telah memanfaatkan bambu sebagai bahan baku kerajinan, olahan masakan tradisional, bahkan terdapat teh daun bambu yang saat ini tengah dikembangkan.
“Kami membuat sebuah taman arboretum, di mana semua jenis bambu di Indonesia kami usahakan ada di sini. Sehingga taman ini nanti akan menjadi sebuah demplot yang akan kita kembangkan,” katanya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto