RADARMAGELANG.ID, Mungkid-- Masih tergolong muda, Muhammad Ilham Wisnu Pradana, siswa sekolah menengah atas ini lebih memilih menekuni hobinya sebagai seorang dalang.
Walaupun dulu ia lebih senang bermain gadget (handphone) saat libur sekolah.
Tak dimungkiri, generasi muda saat ini lebih memilih menghabiskan waktu hanya untuk bermain handphone atau enggak memilih mengembangkan kesenian modern agar tidak tergolong ketinggalan zaman.
Namun, beda dengan Wisnu Pradana.
Dia tetap merawat dan memperkenalkan kesenian tradisional, meski rata-rata generasi milenial enggan untuk menekuninya.
Bocah 16 tahun ini memilih mengasah kemampuan di seni pedalangan.
Bahkan, kesenian tersebut telah ditekuni sejak ia kelas VII SMP.
Dia sudah sekitar tiga tahun menekuni seni pedalangan.
Sebab, kali pertama dia belajar wayang saat masih duduk di kelas VII SMP, dan saat ini sudah kelas XI di SMKI Yogyakarta (SMK Negeri 1 Kasihan).
Warga Dusun Banaran, Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang ini sebelum mengenal wayang, ia mengaku, dulu memang suka bahkan hampir kecanduan untuk bermain game di HP.
Apalagi, dulu ditambah dengan proses belajar secara daring karena pandemi Covid-19, jadi bermain gamenya tambah kencang.
“Bahkan orang tua dulu juga selalu menasehati agar untuk mengurangi bermain HP-nya,” ucapnya saat ditemui di kediamannya.
“Namun, entah karena apa, tiba-tiba akun game saya itu di-hack orang dan hilang. Jadi, karena malas membuat akun baru lagi, jadi sudah enggak nge-game dan beralih ke nonton youtube untuk mencari hiburan lain,” imbuhnya.
Wisnu mengatakan, pas scroll-scroll Youtube ini, ia melihat channel youtubenya Almarhum Ki Seno Nugroho.
Sekilas nonton, ia mengaku sangat tertarik dan terhibur dengan gaya dalangnya Ki Seno, apalagi yang nonton juga sangat banyak bahkan sampai jutaan.
“Dari sini saya mulai menonton channel youtubenya Ki Seno, baik yang singkat bahkan sampai yang durasi full, saya tonton sampai selesai. Bahkan pas nonton ini saya benar-benar terhibur dan bisa tertawa lepas,” ungkapnya.
Mulai dari sini, ketertarikan di dunia pewayangan mulai tumbuh.
Hingga selang beberapa hari, dia mengaku, sampai mencoba membeli wayang mainan dari online shop.
Usai dapat wayang mainan ini, ia mengaku, mencoba memainkannya dan ternyata sangat asik.
“Akhirnya saya terus membeli beberapa wayang mainan, hingga akhirnya memutuskan membeli satu wayang yang cukup bagus,” ucapnya.
Hingga saat ini total sudah memiliki 135 wayang, dan yang paling mahal itu di angka Rp 2,5 juta dan yang paling murah Rp 450 ribu.
Itu dikumpulkan sejak kelas VII SMP hingga saat ini.
Usai mengetahui ada ketertarikan di dunia pewayangan, Wisnu mencoba bercerita ke orang tua, kalau ingin belajar fokus dalang.
“Dan ayah langsung menyetujui, serta langsung di antarkan ke padepokan milik Ki Bagong,” ungkapnya.
Namun, di padepokan Ki Bagong ini hanya belajar kurang lebih satu sampai dua bulan.
Wisnu mengaku, alasannya hanya belajar sebentar, karena gaya pedalangan di Padepokan Ki Bagong ini lebih ke bergaya Solo.
Dan hasil dari penilaian para guru disana, Wisnu mengatakan, gaya mainnya lebih ke gaya Jogjakarta.
“Setelah ada masukan ini, saya diarahkan untuk belajar di Padepokannya milik Ki Susanto Sadewo,” ucapnya.
Dalam berjalannya waktu, di usia 14, Wisnu mengatakan, sebagai hadiah ulang tahun, bapak mengadakan pergelaran wayang kulit di rumah.
“Dan di sini saya disuruh untuk belajar tampil sebagai pembuka kurang lebih 15 sampai 20 menit. Di situ merupakan panggung pertama saya,” ucap siswa SMKI Yogyakarta ini.
Hingga saat ini, pendidikan yang diambil pun juga di sekolah pedalangan di SMKI Jogjakarta.
Meskipun banyak yang menyepelekan hobinya ini, ia tetap berusaha untuk terus membuktikan kalau bisa.
Saat ditanya apakah sudah pernah tampil full, ia mengaku, untuk saat ini masih belum ada kesempatan untuk tampil full.
Tapi, kalau sebagai pengisi dan mendampingi dalang-dalang senior itu sering.
“Meskipun belum punya panggung sendiri, tapi beberapa kali pentas bersama-sama dalang senior sering,” ujarnya. (rfk/ton)
Editor : H. Arif Riyanto