Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Pemindahan Pintu Masuk Candi Borobudur Magelang Diprotes, Dianggap Matikan Pedagang di Pintu Masuk Zona 1 dan 2

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Jumat, 11 Oktober 2024 | 06:47 WIB
Spanduk bertuliskan TWCB Oligarki Sejati...! Masyarakat Lokal Menjadi Budak..?!?! terpampang jelas di Pertigaan Bu Sum atau dekat dengan pintu pos 1 menuju Candi Borobudur.
Spanduk bertuliskan TWCB Oligarki Sejati...! Masyarakat Lokal Menjadi Budak..?!?! terpampang jelas di Pertigaan Bu Sum atau dekat dengan pintu pos 1 menuju Candi Borobudur.

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Pemindahan pintu masuk Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) Kabupaten Magelang ke Museum dan Pasar Seni Boorbudur mendapatkan protes dari warga.

Khususnya warga di sekitar pintu masuk zona 1 maupun zona 2.

Protes tersebut diungkapkan dalam tulisan di spanduk yang dipasang di pinggir jalan yang dikenal dengan sebutan Pertigaan Bu Sum atau dekat dengan pintu pos 1 menuju Candi Borobudur.

Spanduk bertuliskan TWCB Oligarki Sejati...! Masyarakat Lokal Menjadi Budak..?!?!.

Salah satu pedagang, Wulan, 33, mengaku tidak tahu siapa yang memasang.

Spanduk tersebut, kata Wulan, sudah terpasang sejak Selasa (8/10/2024).  

“Saya nggak tahu siapa yang memasang. Soal isi spanduk, saya juga tidak tahu apa-apa. Saya tidak tahu juga maksudnya seperti apa,” katanya.

Pedagang asongan cinderamata, Kodiran, 50, mengaku, setuju dengan pemasangan spanduk tersebut.

Menurutnya, spanduk itu sesuai dengan fakta saat ini.

Di mana PT TWCB selalu mengubah peraturan, tapi tidak pernah disosialisasikan terlebih dahulu.

“Dengan situasi tidak menentu, sering gonta-ganti peraturan jadi tambah susah. Saya ngasong sudah berpuluh-puluh tahun, sebelum ada PT, saya sudah ngasong di sini,” keluh Kodiran.

Ia mengaku, pemasangan spanduk tersebut tepat dengan adanya penutupan pintu pos 1 dan pos 2.

Kodiran mengatakan, dengan penutupan ini, menyebabkan warga sekitar lokasi tertutup rezekinya, karena tidak ada pengunjung yang melintas di area tersebut.

“Padahal di lokasi tersebut juga banyak pengusaha makanan atau usaha lain yang bergantung dengan wisata Borobudur,” ujarnya.

Belakangan diketahui, pemasang spanduk tersebut adalah Agusta Kalang, warga Borobudur.

Ia mengaku, pemasangan spanduk bernada protes itu sebagai bentuk kekecewaan warga sekitar Borobudur.

Ia menjelaskan, kehadiran PT TWCB dan kebijakan yang mereka ambil, tidak ada sama sekali yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

“Contohnya, yang sering kita lihat adalah mereka selalu merasa bahwa Borobudur adalah bagian milik mereka sendiri. Kami sebagai masyarakat lokal selalu diposisikan sebagai objek dan objek ini fatal,” tegasnya.

Agusta mengaku, Borobudur ini tidak dibangun oleh PT TWCB.

Tapi di sini mereka yang merasa memiliki dan seolah-olah apa yang ada di sekitar Candi Borobudur adalah milik PT TWCB.

“Kami melihat bahwa kebijakan-kebijakan mereka (TWC) lebih condong sebagai keuntungan atau corporate,” katanya.

Sebagai warga lokal, ia melihatnya sangat ironi.

Sebab, di sekitar Borobudur, seperti zona 3 tidak lebih dari 1 km dari Candi Borobudur, masih ada kasus stunting dan ratusan orang mengalami kemiskinan ekstrem.

“Ini bagi kami sangat ironi, tidak masuk akal. Di mana Borobudur sangat terekspose secara internasional sebagai ikon wisata dengan segala kemegahan, ternyata di balik pagar mereka masih ada yang kelaparan,” ujarnya.

Pihaknya mencontohkan mulai hari ini akses melalui pintu pos 1 dan pintu pos 2 sudah ditutup.

“Mereka paham nggak, ada banyak orang yang menggantungkan hidup di pintu 1 dan 2. Mereka hari ini cari makan untuk hari ini. Mereka mengambil kebijakan sepihak tanpa memberikan solusi,” protesnya. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#candi borobudur #Museum Borobudur #pasar seni borobudur #TWCB