RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Sebanyak 70 karya dokumentasi foto membingkai perjalanan Festival Lima Gunung (FLG).
Puluhan karya itu dipamerkan dalam perhelatan FLG XXIII yang berlangsung di Dusun Keron, Krogowangan, Sawangan, Kabupaten Magelang, 25-29 September.
Foto-foto itu merupakan karya dari empat fotografer tergabung dalam komunitas Rencang Lima Gunung Ring ½.
Mereka adalah Nugroho DS, Anis Efizudin, Ferganata Indra Riatmoko, dan Gholib.
Pada pameran bertajuk Gumregah Bareng, Gayeng, Seneng itu, masing-masing fotografer menunjukkan karakternya sendiri.
Selain karya mereka yang bisa dinikmati oleh pengunjung, keunikan lokasi dan dekorasi pameran foto ini juga cukup menarik.
Beda dengan pameran foto pada umumnya yang mengambil lokasi di mal, hotel, atau kampus, pameran Gumregah Bareng, Gayeng, Seneng ini hanya menempati ruangan bekas gudang genteng berukuran 7x5 meter.
Berdinding anyaman bambu dan bernuansa pedesaan.
Bagaimana tidak, gudang berkas itu dihias dengan ornamen alami dari pohon cabai keriting, kulit jagung, dan jerami.
Meski begitu, dekorasi ini justru memberikan kesan menyatu dengan alam sekitar.
Nugroho DS mengaku senang terlibat dalam pameran ini.
Ia menampilkan karya dokumentasi kegiatan seni di lima gunung, yaitu Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.
“Setiap foto ini, mengangkat semangat dan dedikasi para seniman gunung untuk terus berkarya secara mandiri,” katanya, Rabu (25/9/2024).
Fotografer lainnya, Anis Efizudin juga menceritakan pengalamannya membersamai para seniman petani lebih dari 20 tahun.
Foto-foto yang dihasilkannya itu bentuk apresiasi untuk para seniman, dan masyarakat.
“Pameran ini tidak hanya untuk memamerkan karya kami, tetapi juga sebagai penghormatan kepada para seniman dan pegiat seni yang telah konsisten berkesenian tanpa bantuan sponsor, ” ungkapnya.
Salah satu foto yang ia pamerkan adalah pementasan seniman FLG di saat pandemi Covid-19 sekitar tahun 2021.
FLG tahun itu berlangsung di Desa Baleagung, Grabag, Kabupaten Magelang.
Pada saat itu, FLG hanya bisa diabadikan oleh beberapa fotografer saja.
Karena itu, pameran ini menjadi persembahannya sebagai fotografer kepada para seniman yang terlibat dalam FLG.
“Ini adalah kenangan visual yang kami persembahkan untuk mereka,” katanya
Setiap karya foto tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan cerita mendalam tentang kehidupan komunitas petani dan seniman di kawasan Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.
Melalui lensa kamera mereka, para fotografer berusaha menangkap momen-momen penting dalam berbagai kegiatan seni, mulai dari pertunjukan tari hingga ritual tradisional.
Sementara itu, Festival Lima Gunung XXIII berlangsung selama lima hari dengan lebih dari 120 kelompok kesenian yang berpartisipasi.
Acara ini meliputi berbagai pertunjukan seni, seperti tari tradisional, teater, musik, pameran foto, dan kirab budaya.
Dengan total sekitar 2.000 peserta dari berbagai daerah, termasuk Magelang, Yogyakarta, Bali, hingga luar negeri, seperti Malaysia dan Meksiko.
Festival ini menjadi salah satu ajang kesenian terbesar di kawasan tersebut.
Panggung festival dirancang dengan ukuran 10 x 12 meter untuk mendukung berbagai penampilan artistik.
Instalasi seni di Dusun Keron juga dikerjakan secara gotong royong oleh warga setempat sebagai bentuk partisipasi aktif dalam perayaan budaya mereka.
Festival Lima Gunung XXIII tidak hanya menjadi ajang pementasan seni, tetapi juga sebagai platform untuk melestarikan budaya lokal dan memperkuat ikatan antarwarga komunitas.
Dengan pameran foto yang mengangkat tema "Gumregah Bareng, Gayeng, Seneng," festival ini berhasil menunjukkan kekayaan budaya serta semangat kolaborasi antara seniman dan jurnalis dalam merayakan kehidupan masyarakat petani di kawasan Lima Gunung. (put/mg28/aro)
Editor : H. Arif Riyanto