RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Tidak kunjung mendapatkan lapak, para pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Sentra Kerajinan dan Makanan Borobudur (SKMB) nekat berjualan di depan Museum dan Kampung Seni Borobudur di Kujon.
“Kita anggota SKMB yang sebelumnya berjualan di trotoar depan pintu 6, akan mulai berpindah berjualan di depan Museum dan Seni Borobudur. Rencananya, akan dimulai Minggu besok,” kata Ketua SKMB Muhammad Zulianto kepada wartawan, Jumat (20/9/2024).
Zulianto mengaku, berbagai upaya sudah dilakukan oleh seluruh anggota SKMB untuk mendapatkan haknya.
Namun nahasnya hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan jatah lapak yang ada di Museum dan Kampung Seni Borobudur.
Jika ingin bergabung dan mendapatkan lapak, lanjut dia, SKMB harus dibubarkan dan harus melebur jadi satu dengan Forum Pedagang Borobudur Bersatu (FPBB).
“Yang jelas nggak bisa kalau harus membubarkan SKMB. SKMB ini sudah berbadan hukum dan sudah mempunyai koperasi sendiri. Apalagi SKMB ini merupakan paguyuban yang sudah ada sejak dahulu sebelum adanya FPBB ada. Jadi, kita keberatan juga soal hal itu,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, sebelum mendapatkan lapak resmi di dalam Museum dan Kampung Seni Borobudur di Kujon, dirinya bersama anggota SKMB lainnya akan berjualan di depan Museum dan Kampung Seni Borobudur di Kujon.
“Ini sebagai upaya kami untuk mencukupi harian kami. Insya’Allah kalau rezeki pasti datang sendiri,” katanya.
Pada Minggu (22/9/2024), lanjut Zulianto, anggota SKMB yang belum mendapatkan lapak akan berjualan di depan Museum dan Kampung Seni Borobudur.
“Kita juga sama-sama berjuang untuk mencari nafkah. Berapapun hasilnya nanti tetap kita syukuri, yang penting kita ikhtiar,” ungkapnya.
Aksi berjualan di depan Museum dan Kampung Seni Borobudur di Kujon, kata Zulianto, juga bisa disebut bentuk aksi protes anggota SKMB, karena sampai sekarang belum mendapatkan kepastian soal lapak yang diharapkan.
“Total ada sekitar 350 anggota SKMB yang belum mendapatkan lapak dari total 767 anggota,” ujarnya.
Terkait pernyataan Menteri Sandiaga Uno dan Luhut Binsar Panjaitan kalau hal itu hanya mis komunikasi, Zulianto mengaku dari awal hanya janji saja.
Dan itu sudah berkali-kali disampaikan, tapi ternyata sampai sekarang tidak ada kejelasan.
“Dari awal relokasi itu jaminan akan lapak itu ada, tapi nyatanya mana? Tidak dapat. Mereka itu tidak tahu kondisi di bawah bagaimana,” katanya.
Sebenarnya dari awal, pihaknya simpel. Namanya pemindahan lapak, harusnya setelah dilakukan verifikasi lengkap, pihaknya bisa segera pindah ke lapak yang baru.
“Terkait organisasi SKMB itu kan bisa berjalan bersama. Yang penting sama-sama kita rukun dan kita berdagang bersama. Kenapa harus dibubarkan dulu dan harus bergabung dengan paguyuban FPBB?” ujarnya setengah bertanya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto