RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Di Candimulyo, Kabupaten Magelang, terdapat sebuah pohon raksasa yang memiliki umur sudah hampir 400 tahun.
Pohon ini sampai sekarang masih berdiri kokoh di salah satu dusun yang ada di Candimulyo.
Selain dikenal menjadi daerah penghasil durian di Kabupaten Magelang, Kecamatan Candimulyo juga memiliki sebuah pohon raksasa yang memiliki umur sudah hampir ratusan tahun.
Pohon jenis randu alas ini sudah berdiri kokoh di Kapuranggan, Kebonrejo, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang.
Pohon randu alas ini memiliki diameter kurang lebih 20 meter. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Magelang, dari kejauhan pohon ini tampak terlihat menjulang.
Dan jika dilihat dari kejauhan, pohon ini tampak berada di ujung perkampungan.
Pohon ini memiliki tinggi sekitar 100 meter lebih.
Dan tampak pohon ini masih cukup kokoh dan masih cukup lebat banyak daun di setiap rantingnya.
Saat akan dikonfirmasi mengenai usia pohon randu alas, warga sekitar tidak tahu pasti usia dari pohon tersebut.
Ada yang bilang bisa lebih 400 tahun usianya.
Warga hanya mendengar cerita turun-temurun dari orang tua maupun kakek dan neneknya.
“Sekarang itu saya umurnya 82 tahun. Dan pohon ini sudah ada sejak zaman kakek buyutnya. Keberadaan pohon itu sampai sekarang sudah enam keturunan. Saya umur 82 tahun dikalikan 6, sudah berapa (tahun), kan 400-an (tahun),” kata Dulgani, 82, warga setempat saat ditemui wartawan di rumahnya.
Dulgani mengatakan, pohon randu alas ini sudah ada sejak mbah cakal bakal, kemudian turun ke mbah canggah, mbah buyut, mbah kakung, biyung, dan dirinya.
“Jadi sudah enam generasi,” ujarnya lagi.
Ia mengaku, dulunya pas tahu itu, ukuran pohon sudah seperti itu.
Dan sampai sekarang, menurutnya, ada sedikit perkembangan karena mungkin ketinggiannya ada sedikit penambahan baik tinggi atau diameternya.
Kasi Pemerintahan Desa Kebonrejo, Warno Suyudi, 54, mengatakan, menurut cerita dari kakeknya, pohon randu alas itu sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Pohon itu tumbuh di lahan milik almarhum Mustar, kakeknya Warno.
“Sejak zaman Belanda sudah ada. Bapak saya juga ngendika (bilang) kalau waktu bapak saya kecil, pohon itu sudah besar. Tahun 2016 itu kami iseng ngukur ada 18,6 meter keliling bawahnya,” kata Warno.
Namun, pada 2022 lalu, ada yang ngukur lagi infonya itu 21,5 meter diameter.
Jadi, untuk pastinya, dia mengaku kurang tahu dan tidak mengikuti.
Ia mengatakan, berjalannya waktu, dulunya pohon ini sempat ada yang mau nawar (dibeli) untuk membakar batu bata.
Namun, waktu itu ditolak, karena pohon ini juga bermanfaat untuk cadangan air.
“Waktu itu sekitar 2000, bapak saya didatangi oleh seseorang. Yang ternyata orang tersebut ingin membeli pohon randu alas tersebut. Namun, setelah saya pulang kerja, saya langsung bilang minta maaf karena pohon tersebut tidak dijual. Karena bermanfaat untuk cadangan air di bawahnya,” jelasnya sambil mengenang masa lalu.
Selain itu, kata Warno, pohon randu alas ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi desanya.
Karena, setiap lebaran pasti banyak keluarga dari luar daerah yang mampir untuk berfoto di dekat pohon itu.
“Ya saya berharap, ke depannya pohon ini bisa menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan juga,” ungkapnya.
Saat ditanya mengenai legenda dari pohon randu alas tersebut, Warno mengatakan, dirinya pernah mendapatkan cerita kalau dulu ada seorang pangeran diubah bentuknya menjadi musang.
Sehingga dulunya itu di pohon randu alas tersebut menjadi tempat bersarang ratusan musang.
“Namun, musang-musang tersebut sekarang sudah jarang dan bahkan sudah tidak pernah terlihat. Yang pasti dulu juga pernah dengar cerita turun-temurun tentang 'penunggu' di pohon randu alas tersebut,” ujarnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto