RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Kabupaten Magelang termasuk salah satu daerah penghasil tembakau di Jawa Tengah. Meskipun bukan yang terbesar, tembakau Magelang kualitasnya bagus.
Merupakan tembakau rajangan yang menjadi bahan baku rokok kretek maupun filter. Dengan aroma yang sangat khas. Terkenal sejak zaman penjajahan Belanda.
Daerah penghasil tembakau di wilayah Kabupaten Magelang ada di 19 kecamatan. Yakni Kecamatan Borobudur, Ngluwar, Dukun, Muntilan, Sawangan, Kaliangkrik. Lalu Kecamatan Windusari, Tegalrejo, Pakis, Grabag, Ngablak. Juga Bandongan, Salam, Srumbung, Candimulyo, Mungkid, Kajoran, Mertoyudan dan Secang.
Adapun lahan tembakau ada dua, di sawah dan gunung. Hingga Juni 2024, luasan lahan tembakau gunung mencapai 3.068 hektare.
Tembakau gunung berada di dataran tinggi. Ditanam dengan komoditas hortikultura lainnya. Umumnya bersamaan umumnya bersamaan dengan hortikultura secara tumpang gilir.
Dinas Pertanian dan Pangan (Distan dan Pangan) Kabupaten Magelang mendapatkan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) untuk peningkatan produksi serta produktivitas tembakau.
Dana tersebut direalisasikan dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan pertanian. Menurut Kepala dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang Ir Romza Ernawan, M.Si realisasi anggaran DBHCHT antara lain untuk penyediaan bantuan alat mesin pertanian (alsintan).
Seperti cultivator, alat angkut roda tiga dan bantuan pupuk untuk tanaman tembakau. Selain itu ada program standarisasi pemupukan tembakau. Juga pengadaan pengembangan komunitas perkebunan. Seperti pengadaan bibit kopi, cengkih, kelapa, lada.
“Jadi memang tidak melulu untuk tembakau. Bisa untuk kopi, cengkih kelapa, lada. Itu sesuai dengan surat edaran dirjen,”papar Romza ketika ditemui di kantornya.
Pengembangan komunitas perkebunan dilakukan karena tembakau padat modal.
High risk baik on farm maupun off farm. Lahan tembakau sempit dan pertumbuhannya tergantung pada cuaca. Di samping itu sarana produksi tembakau mahal. Karena penggunaan pupuknya nonsubsidi. Maka berbiaya tinggi.
Untuk mengurangi biaya produksi dan agar meningkatkan pendapatan, petani dibantu peralatan mesin pertanian. Sehingga bisa mengurangi biaya tenaga kerja.
Terlebih saat ini terjadi kelangkaan sumber daya manusia sehingga biayanya mahal. Maka pihaknya mendorong mekanisasi pertanian agar terjadi efisiensi biaya produksi, termasuk biaya tenaga kerja.
Sementara program standarisasi pemupukan dilakukan untuk mencari formula yang tepat agar hasilnya bagus. Karena pupuk untuk tembakau tidak menggunakan subsidi. Pupuk subsidi hanya untuk 9 komoditas, di luar tembakau. (lis)
Editor : Lis Retno Wibowo