Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Perupa Jogja dan Magelang Pamerkan Karya “Karakter” di Museum Haji Widayat, Beberapa Lukisan Telah Terjual

Puput Puspitasari • Sabtu, 20 Juli 2024 | 19:11 WIB
Pameran lukisan di Museum Haji Widayat (MHW) Mungkid, Magelang seolah menjadi obat rindu, setelah hampir lima tahunan, museum ini tak menjadi ruang pamer untuk karya-karya para seniman.
Pameran lukisan di Museum Haji Widayat (MHW) Mungkid, Magelang seolah menjadi obat rindu, setelah hampir lima tahunan, museum ini tak menjadi ruang pamer untuk karya-karya para seniman.

RADARMAGELANG.ID, Magelang– Pameran lukisan di Museum Haji Widayat (MHW) seolah menjadi obat rindu, setelah hampir lima tahunan, museum ini tak menjadi ruang pamer untuk karya-karya para seniman.

Antusias pengunjung dan kolektor tergambar nyata saat menghadiri pameran bertajuk “Karakter” yang dihelat di MHW.

Buktinya, baru hitungan hari pameran berlangsung, beberapa karya lukisan terjual.

Entah berapa banyak lukisan yang akan terjual sampai hari terakhir pameran, 29 Juli mendatang.

Pameran Karakter ini merupakan pameran kolaboratif antara perupa asal Jogjakarta, yakni Priyaris Munandar dan Rismanto, serta perupa dari Magelang, Cipto Purnomo.

Ketiganya menampilkan karya fenomenal masing-masing.

Sudjud Dartanto, penulis pameran menyebutkan, seni rupa selalu menjadi cermin multifaset dari jiwa manusia. Memantulkan kekayaan sisi artistik, pengetahuan, dan hikmah yang terkandung dalam setiap ekspresi.

Pameran Karakter ini merupakan pameran kolaboratif antara perupa asal Jogjakarta, yakni Priyaris Munandar dan Rismanto, serta perupa dari Magelang, Cipto Purnomo.
Pameran Karakter ini merupakan pameran kolaboratif antara perupa asal Jogjakarta, yakni Priyaris Munandar dan Rismanto, serta perupa dari Magelang, Cipto Purnomo.

Dalam pameran “Karakter” ini, para seniman menunjukkan bahwa seni rupa berbicara dalam bahasa simbolik yang mendalam.

Serta mampu menciptakan jembatan, antara estetika dan kompleksitas kehidupan.

“Karakter sebagai tema pameran ini bukan sekadar topik, melainkan wajah dari setiap karya yang dipamerkan mereka,” katanya.

Pameran ini menyuguhkan perjalanan rupa yang menggali lebih dalam, tentang sebuah karya seni yang berkarakter.

Bukan hanya tentang bentuk fisik, tapi juga tentang bagaimana sebuah karya seni dapat mengkomunikasikan ide, emosi, dan nilai-nilai kepada penikmatnya.

Pameran ini dipersiapkan selama setahun. Begitu pengakuan Priyaris Munandar.

Ia menyuguhkan 13 lukisan dan satu karya instalasi. Karya-karya yang ditampilkannya itu mencerminkan kompleksitas sosial dan spiritual, hubungan manusia dengan Tuhan.

Ia menggunakan simbol-simbol kuat untuk menyampaikan pesan-pesan itu.

Filosofi itu menjadi konsep karyanya. Tapi secara umum, pameran “Karakter” ini adalah keinginan ia dan teman-temannya untuk menyampaikan pesan yang luas.

Bukan hanya dari sisi kehidupan manusia saja, tapi juga semangat, perenungan, religiusitas, dan pesan menuju masa depan.

“Bumi terus berproses, sama seperti manusia. Tidak ada yang mutlak. Tapi selalu ada harapan untuk menjadi baik dan lebih baik,” ungkap Priyaris.

Ia pun mengangkat banyak legenda atau mitologi kuno yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Hal ini dianggapnya bukan sebagai kemunduran.

Tapi cerita-cerita kuat di zaman dulu memang lebih membumi. Juga sudah ada kepercayaan, bahwa sesuatu yang buruk akan berakibat buruk—seperti “karma”.

Bahkan banyak yang takut, karena dianggap malati atau menyebabkan kualat.

“Tapi sekarang ini, saking banyak manusia yang pinter, tapi pinter untuk minteri dan lupa perjalanan nuraninya. Istilahnya, yang tumpul makin selamat, yang pinter makin berbahaya,” ujarnya mengomentari gejolak kehidupan masyarakat Indonesia masa kini.

Sebut saja, karya berjudul “Keluarga 9 Naga” dan “Kuil Hengsan”.

Karya ini menggambarkan hubungan kekuasan dan persaingan dunia dagang Indonesia, serta tatanan sosial yang penuh intrik dan misteri.

Pria kelahiran Jogjakarta, 27 Februari 1978 itu juga membuat instalasi yang disusun dari kayu bakar.

Lalu ada satu patung pria bersila, sebagai simbol dirinya.

Karya ini ia beri judul “Membakar Diri”.

“Kalau kita benci sesuatu, iri, dengki, rasa tidak puas, itu jadi racun yang lama-lama menumpuk, dan menjadi bara api di dalam diri. Kalau nggak kuat menahan, lama-lama akan membakar kemurnian hati kita, yang suci jadi hilang, hati menjadi kotor dan busuk,” ungkapnya.

Sama halnya dengan Rismanto.

Seniman asal Bantul itu juga banyak menyuguhkan karya dengan pendekatan simbolis dan spiritual untuk menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.

Totalnya ada 11 lukisan. Karya-karyanya bukan hanya memanjakan mata, tapi sekaligus perenungan, karena ia tak pernah melupakan elemen tanah untuk lanskap kehidupan yang ditampilkan.  

Ia menceritakan salah satu karyanya berjudul “Pasutri Tua Pemecah Batu”.

Ia melukisnya dalam kanvas berukuran 185x350 centimeter.

Karya ini punya arti mendalam. Juga sebuah kerinduannya kepada kedua orang tuanya yang telah pergi meninggalkan dunia.

Memecah batu disimbolkan sebagai kekuatan, kerja keras, kesabaran, tanggung jawab atas keberlangsungan hidup anak-anak.

Hikmah yang dipetik adalah sebagai anak wajib hormat dan menyayangi kedua orang tua, bahkan sampai mereka telah tiada.

“Orang tua itu sangat penting untuk kehidupan anak-anaknya. Sampai mereka meninggal, pantas untuk kita hormati dan kita jaga nama baiknya. Karena apapun pekerjaan mereka sebelum meninggal, yang mereka lakukan adalah untuk kesejahteraan dan kebaikan anak-anaknya. Bahkan mendoakan orang tua yang sudah meninggal, rasanya nikmat sekali,” ucapnya dengan suara berat, seolah berusaha menahan tangisnya.

Cipto Purnomo juga menampilkan karya-karya terbaiknya. Pengunjung akan dibuat terpukau dengan karyanya berjudul “Mengendalikan Naga” dan “Power of Mythology”.

Kedua karya ini mengajak penikmat untuk masuk ke dalam dunia mitos dan refleksi diri.

Simbol naga dipilihnya sebagai pengganti kekuatan dalam diri yang bisa dikendalikan untuk mencapai tujuan.

Ia mengadaptasi dari cerita Dewa Ruci, ketika Bima melawan naga. 

“Dalam perspektif saya, sang naga adalah simbol kekuatan besar dalam diri manusia, yaitu ego. Orang berkuasa akan mudah mengendalikan orang di bawahnya, tapi sejatinya, yang paling sulit adalah mengendalikan diri sendiri,” jelasnya.

Sementara dalam karya lainnya, mitos dalam kehidupan dipakai untuk memahami apa saja yang ada dalam diri manusia dan sekitarnya.

Bahkan mitos maupun cerita-cerita zaman dulu akan terus berlanjut sampai generasi berikutnya.

Ada pula hal menarik yang tersirat dalam karya drawing hitam putih, berukuran 150 x 300 centimeter.  

Karya itu berjudul “Pertempuran di Langit”.

Cipto menyebut, langit adalah personifikasi dari pikiran. Sedangkan pertempuran adalah proses menentukan pilihan, ide, gagasan, maupun keputusan.

“Jadi karya ini mengibaratkan pikiran manusia yang selalu ‘berperang’ di kepala untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Itu saya anggap sebagai pertempuran,” tandasnya.

Dalam karyanya ini, ia juga memasukan simbol burung gagak dan burung elang.

Ia menyampaikan pesan kekuatan dan kesabaran akan menghasilkan keputusan yang tepat.

Pameran kali ini, Cipto menampilkan delapan karya.

Direktur MHW Fajar Purnomo Sidi mengapresiasi karya ketiga seniman itu.

Ia berharap, pameran ini bisa menjadi hiburan sekaligus pengingat diri.

Juga diakui berdampak pada tingkat kunjungan museum.

“Pameran ini sangat sesuai dengan apa yang mereka (seniman, Red) pamerkan. Masing-masing seniman punya karakter yang kuat. Saya apresiasi,” pungkasnya. (put/aro)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#seniman #museum haji widayat #Ruang Pamer #Priyaris Munandar #Kabupaten Magelang