RADARMAGELANG.ID, Mungkid – Kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur selama masa libur Lebaran gagal mencapai target yang diharapkan.
Tercatat, sebanyak 63.427 wisatawan mengunjungi Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) selama libur Hari Raya Idul Fitri 1445 H.
Meski tak mencapai target, Candi Borobudur tetap menjadi destinasi wisata tertinggi tingkat kunjungannya di Jateng.
Pengelola TWCB sendiri menetapkan masa ramai libur Lebaran selama 10 hari, mulai 8-17 April.
Selama periode ini ditargetkan jumlah kunjungan mencapai 97.400 wisatawan.
General Manager PT Taman Wisata Candi Borobudur Jamaludin Mawardi menyampaikan, wisatawan yang dating terdiri atas 90 persen wisatawan domestik dan 10 persen wisatawan mancanegara.
“Kalau yang naik ke bangunan candi rata-rata okupansinya 100 persen dari hari pertama. Wisman sekitar 8-10 persen dari jumlah itu, dan mereka naik candi. Selebihnya adalah wisnus (wisatawan nusantara),” terangnya.
Terkait penurunan jumlah kunjungan wisatawan, kata Jamal, sifatnya masih hipotesis. Pihaknya masih mencari referensi (penurunan) apakah memang hanya terjadi di Candi Borobudur atau di destinasi yang lain.
Beberapa informasi memang di destinasi-destinasi lain tidak sampai terjadi ledakan pengunjung.
Itu berdampak juga ke Borobudur tentunya.
Kedua, akses saat ini sangat gampang.
“Orang dari satu kota ke kota lain, tujuannya mudik, ya yang dilakukan adalah pulang ke kampung dulu. Alternatif keduanya baru berwisata,” katanya.
“Hipotesa lain yang bisa saja terjadi khusus di Borobudur ini masih terpengaruh adanya isu pembatasan pengunjung. Sehingga mereka datang, tapi karena tidak mendapatkan kesempatan, akhirnya mereka membatalkan. Saya melihat sendiri. Ini sifatnya masih dugaan yang menyebabkan jumlahnya tidak seperti yang kita prediksikan,” tambahnya.
Selama masa libur Lebaran yang telah ditetapkan kunjungan wisatawan tertinggi tembus 13.700 pada Selasa (12/4/2024). Kemudian Sabtu (16/4/2024) mencapai 13.000-an.
“(Faktor cuaca) Itu dalam persentase kecil mungkin juga bisa mempengaruhi. Baru siang, sudah turun hujan. Orang bisa saja terganggu, terhambat dan mengubah kunjungannya. Tidak jadi berwisata,” ujarnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto