RADARMAGELANG.ID, Magelang –Dalam menjaga kelestarian Candi Borobudur, berbagai aspek ilmu dan pendekatan dari para pakar lintas disiplin ilmu harus dilakukan. Salah satunya peran serta masyarakat sekitar. Para pakar tersebut bertemu pada gelaran The 8th International Experts Meeting on Borobudur 2023. Pertemuan itu dirasa penting karena paradigma disiplin ilmu terus berubah.
Direktur Perlindungan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi Judi Wahjudin menyampaikan, harus ada komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian Candi Borobudur ini agar terus berlanjut.
Dikatakan, kegiatan International Experts Meeting on Borobudur ini merupakan pertemuan para ahli disiplin ilmu internasional yang membahas soal pelestarian Candi Borobudur. Pertemuan tersebut digelar rutin setiap lima tahun sekali. “Kali ini, menjadi pertemuan kedelapan dengan peserta berasal dari Indonesia, Perancis, Thailand, Italia dan Jepang,” terang Judi Wahjudin kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Ia menambahkan, upaya pelestarian Candi Borobudur tidak hanya memerlukan peran para arkeolog saja. Tetapi, juga ahli lingkungan, insinyur, struktural, pakar konservasi, sosial budaya, dan disiplin ilmu lainnya. Dengan begitu, lanjut dia, mereka dapat bekerja sama menggali wawasan dari berbagai perspektif untuk solusi menyeluruh.
“Sinergi antardisiplin ilmu bisa mewujudkan strategi konservasi yang lebih holistik, mencakup aspek fisik, bangunan, dampak lingkungan, dinamika sosial, dan faktor lainnya,” katanya.
Judi mengatakan, selain harus melibatkan masyarakat dalam pelestarian, masyarakat juga harus mendapatkan edukasi yang berkelanjutan. Dan, edukasi tidak harus dilakukan oleh Museum Cagar Budaya saja, melainkan juga harus melibatkan pemangku kepentingan lainnya, seperti pemda, komunitas, dan lainnya.
Dia menyebut, pertemuan ini sekaligus untuk memastikan setiap aspek Candi Borobudur mulai dari sejarah, material, hingga pengaruhnya terhadap masyarakat dan lingkungan ditangani dengan cermat serta komprehensif.
Menurutnya, dalam konsep kemajuan kebudayaan, tidak hanya terkait dengan ketahanan budaya, melainkan kontribusi kebudayaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat umum. “Kita mendorong untuk masyarakat sekitar juga bisa terlibat dalam pelestarian candi. Seperti kegiatan bersih-bersih candi dan penelitian ringan di kompleks candi,” ungkapnya.
Subkoordinator Warisan Dunia Borobudur dan Cagar Budaya (MCB) Unit Borobudur Wiwit Kasiyati mengatakan, pada gelaran kali ini juga didorong soal peran serta masyarakat sekitar dalam membantu pelestarian Candi Borobudur.
Wiwit mencontohkan, saat ini keterlibatan masyarakat ibaratnya nomor satu. “Kita tidak bisa lagi hanya berpikir fisik candi saja, tetapi kita juga harus berpikir masyarakat. Keberadaan relief Candi Borobudur bisa diangkat dalam seni dan budaya masyarakat,” katanya. (rfk/aro)