RADARMAGELANG.ID, Magelang - Jenang gempol Pariyem menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih bertahan di Pasar Rejowinangun, Kota Magelang.
Meski banyak kuliner modern bermunculan, jenang gempol masih digemari pelanggan.
Kuliner berbahan dasar beras dan gula ini telah dijual Pariyem sejak tahun 1970-an. Ia meneruskan usaha ini dari iparnya.
Sebelum berjualan di Pasar Rejowinangun, Pariyem menjajakan di kawasan yang kini menjadi lokasi Indomaret Malanggaten.
Saat itu, kawasan tersebut masaih berupa rumah warga dan belum ada Indomaret.
Perempuan berusia 71 tahun ini kemudian pindah ke Pasar Rejowinangun setelah lokasi berjualan sebelumnya akan digunakan sebagai tempat parkir.
Baca Juga: Aneka Jenang Ngasem, Warung Legendaris Bogeman Kidul yang Tetap Eksis Sejak 1960-an
“Awal jualan di depan Indomaret Malanggatan, tapi belum ada Indomaret, masih jadi rumah orang terus dijual. Pindah ke sini karena disuruh pindah. Soalnya di sana dipakai buat tempat parkir,” cerita Pariyem.
Pada awal berjualan, Pariyem belum menggunakan gerobak. Dagangannya digendong. Namun, karena kini sudah tidak kuat lagi, ia menggunakan gerobak untuk berjualan.
Jenis beras yang digunakan untuk membuat gempol sebagai bahan utamanya adalah jenis cempo.
Beras tersebut biasa digunakan untuk membuat kupat dan tidak dapat digantikan dengan sembarang jenis beras. Proses pengolahannya juga membutuhkan waktu cukup panjang.
Gempol mulai dibuat sejak siang hari, sedangkan jenang diolah pada malam hari. Lamanya proses pembuatan membuat jenang gempol tidak bisa dibuat pada pagi atau dini hari sebelum berangkat berjualan.
“Berasnya direndam, terus dicuci terus digiling. Habis digiling jadi tepung, dikepalkan terus dikukus. Habis dikukus dihancurkan dan dikepalkan lagi. Lalu dipotong dan dibentuk bulet. Dikukus satu jam. Jadi dua kali pengerjaan tepungnya setengah jam, sisanya satu jam. Bikinnya nggak bisa dadakan dini hari soalnya prosesnya lama,” ujar Pariyem.
Dalam sehari, ia menghabiskan sekitar 6,5 kilogram beras dan 3,5 kilogram gula. Satu porsi jenang gempol berisi jenang, gempol, serta santan yang gurih.
Baca Juga: Wedangan Patehan Borobudur : Nikmati Kuliner Tradisional dengan Nuansa Klasik di Kawasan Borobudur
Salah satu pembeli, Dita mengakui jenang gempol Bu Pariyem harganya enak. Gurih dan manis.
“Ini pertama kalinya aku makan jenang gempol. Harganya murah dan enak. Makan seporsi udah ngenyangin banget. Cocok buat ganjel perut kalau lagi males sarapan,”tuturnya.
Pariyem mulai berjualan pukul 05.00 hingga dagangannya habis. Setelah puluhan tahun berjualan, jenang gempol tersebut masih menjadi bagian dari kuliner tradisional yang bertahan di Pasar Rejowinangun. (mardiana putri kurniawan/dita nurul azizah/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo