Matahari baru terbit, riuhnya pasar sudah hidup.
Di sinilah, Pasar Ngasem mempertahankan ketradisionalannya.
Aneka dagangan kuliner hingga kebutuhan makanan pokok dijajakan di sini.
Salah satunya dawet yang sudah ada sejak 1960 atau 66 tahun lalu.
Kuliner legendaris yang berjualan dengan meja sederhana ini menawarkan kesegaran dawet dengan tambahan tape ketan hijau sebagai penambah cita rasanya.
Sebelum menetap di Pasar Ngasem, Kelurahan Panjang, Kecamatan Magelang Tengah, kuliner yang lebih dikenal dengan Dawet Mak Cowek ini berjualan di Stasiun Sepur, dekat Pasar Rejowinangun Kota Magelang.
Seiring perkembangan zaman, harga yang ditawarkan juga berubah.
Semangkok dawet, dengan isian camcau (cincau), cendol, roti tawar, santan, gula merah cair, es batu, dan tak ketinggalan tape ketan hijaunya ini, pembeli hanya perlu merogoh saku Rp5.000 saja.
“Mbiyen jamane iseh 500 gelo, saiki 5 ewu wae mbak,” ucap Mak Cowek, pedagang dawet kepada Jawa Pos Radar Magelang, Selasa (22/9/2026).
Nenek yang kini berusia 70 tahun ini adalah generasi ketiga yang melestarikan kehadiran dawet legendaris di Kota Sejuta Bunga ini.
Mak Cowek mulai melayani pembeli pukul 06.00 pagi dan tutup apabila dagangannya sudah habis.
“Biasanya jam 11.00 udah kukutan,” katanya.
Mak Cowek mengatakan, jadwal bukanya menyesuaikan ada dagangan yang akan dijual atau tidak.
Namun berdasarkan pengakuan Mak Cowek, hari Senin dan Kamis pasti tutup.
Ia mengaku lebih sering berjualan ketika weekend.
“Tergantung ada dagangan apa enggak. Kalo ada ya jualan. Yang pasti jualan itu di Jumat, Sabtu, sama Minggu,” jelasnya.
Kuliner yang telah berusia 66 tahun ini tidak mengalami perubahan signifikan sejak awal dijual.
Tak ada bahan khusus yang digunakan.
Secara turun-temurun menjadi kuliner khas yang dikelola oleh keluarga Mak Cowek.
Yang menjadi perbedaan hanya terletak pada penambahan kondimen potongan roti tawarnya.
“Enggak ada (perubahan resep), tapi dulu gak pakai roti soalnya lagi mahal, sekarang udah pakai (roti),” kata Mak Cowek.
Kuliner dengan sensasi segar dari santan dingin ini tak hanya nikmat di pagi hari, tapi dengan rasa manis yang mengenyangkan, bisa juga dinikmati untuk pengganjal lapar di siang hari. (dita nurul azizah/mardiana putri Kurniawan/aro)
Editor : H. Arif Riyanto