RADARMAGELANG.ID, Magelang -Tempat nongkrong di Magelang tidak pernah kehabisan ide segar.
Menawarkan menu yang tak biasa untuk sebuah tempat berkumpul.
Kedai ala kopitiam dengan menu bubur khas Kalimantan, menjadi favorit anak muda.
Adalah Kedai Soemitro, sebuah tempat nongkrong yang mulai meramaikan geliat kuliner Magelang sejak September 2025.
Berbeda dengan tempat nongkrong pada umumnya, Soemitro dengan berani mengawinkan interior oriental khas Chinese dengan sentuhan nama yang sangat kental dengan kultur Jawa.
Baca Juga: Rumah Makan Johar Sari Hanya Mengolah Entok Kampung, Gurihnya Bikin Nagih
Ada lampion merah. Hiasan gambar-gambar iklan jadul dengan huruf China memenuhi dinding. Warna merah pun semakin menegaskan konsep oriental.
Manajer Operasional Kedai Soemitro, Andika mengungkapkan perpaduan unik ini menghasilkan konsep kopitiam ala Kalimantan yang kuat dengan pengaruh Chinese.
Kedai ini awalnya membidik pasar masyarakat keturunan Tionghoa di Kota Magelang, namun dalam perjalanannya, tempat ini justru bertransformasi menjadi magnet baru yang sangat digandrungi oleh generasi Z (gen Z).
"Kenapa Soemitro? Kami memang benar-benar mencari nama yang identik dengan Jawa. Sebenarnya Soemitro sendiri diambil dari nama teras keluarga," ungkap Andika ketika ditemui di kedainya kawasan Jalan A Yani, Kota Magelang.
Ide menjadikan bubur sebagai menu utama di tempat nongkrong rupanya berangkat dari pengalaman pribadi sang pemilik yang kerap kali dirasakan oleh anak muda lainnya.
Yaitu, sulitnya mencari makanan hangat dan mengenyangkan saat sedang asyik berkumpul bersama teman-teman hingga larut malam.
Dari keresahan itulah, Soemitro hadir memberikan solusi tempat nongkrong yang menyajikan bubur di malam hari.
Sesuatu yang masih jarang ditemukan di Magelang.
Di antara deretan menu yang ditawarkan, bubur culture sukses menjadi menu best seller.
Hidangan ini merupakan bubur khas Soemitro yang disajikan unik dengan kuning telur omega mentah di atasnya, menghasilkan cita rasa gurih yang otentik.
"Menjadi beda utamanya ya di bubur tadi itu. Kapan lagi bisa nyari bubur malam-malam kan? Dan target marketnya sendiri gen Z," tambah Andika yang juga merupakan penikmat bubur.
Kedai Soemitro memiliki dua dinamika pengunjung yang berbeda dalam sehari. Jika matahari baru terbit, kedai ini langsung dipadati oleh masyarakat yang mencari sarapan.
Terutama karena lokasinya yang berada di rute favorit warga yang berolahraga pagi.
"Jam ramainya itu jam 08.00 sampai jam 10.00, itu crowded-nya. Soalnya di sini juga jadi rute orang olahraga," paparnya.
Sementara ketika malam tiba, atmosfer kedai berubah total menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda yang ingin sekadar mengobrol santai dengan harga menu yang sangat terjangkau.
Menghadapi gempuran kafe-kafe modern yang terus menjamur di Magelang, manajemen mengaku tidak khawatir.
Mereka justru menyukai karakter anak muda Magelang yang penasaran dan antusias mencoba hal-hal baru.
Karena hal tersebut membuat atmosfer kota menjadi jauh lebih hidup dan ramai.
Melihat antusiasme pengunjung yang terus meningkat, Kedai Soemitro menatap rencana pengembangan ke depan.
Fokus utama dalam waktu dekat adalah memindahkan kedai ke lokasi yang jauh lebih luas agar para pelanggan bisa menikmati semangkuk bubur hangat dan secangkir kopi dengan lebih leluasa. (lazuardi rafi alif adani/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo