RADARMAGELANG.ID, Temanggung -Di tengah hawa dingin lereng Gunung Sindoro, ada satu kedai mungil yang ramai diburu penikmat kopi luar kota. Namanya At Sundara. Lokasinya tersembunyi di kawasan Kledung, Kabupaten Temanggung.
Jauh dari hiruk pikuk pusat kota. Namun justru itu yang dicari para pelanggan.
Konsepnya bukan coffee shop modern penuh lampu terang dan musik keras.
Di sini, suasananya tenang, pelan. Santai. Bahkan cenderung alon-alon asal kelakon.
Pemiliknya, Rifki Arifian, awalnya tak pernah membayangkan bengkel milik ayahnya berubah menjadi kedai kopi.
“Awalnya ini cuma tempat quality control hasil kebun kopi sendiri. Terus teman-teman minta dibuat tempat nongkrong,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Pemuda 26 tahun itu sebelumnya bekerja sebagai digital marketer di Malang.
Hampir 15 tahun hidup di Jawa Timur sejak SMP hingga bekerja, membuatnya berpikir untuk pulang kampung dan membangun sesuatu di desa.
Keputusan resign itu kemudian melahirkan At Sundara pada Mei 2025.
Awalnya kedai ini bahkan jarang buka. Seminggu hanya sekali atau dua kali.
Namun karena permintaan pelanggan terus naik, Rifki mulai serius menggarap konsep slowbar yang berbeda dari coffee shop lain di Temanggung.
Rifki membeberkan, kedai kopi At Sundara mengusung konsep ala kedai kecil di Vietnam dan Thailand.
Bangunannya sederhana, tetapi terasa hangat dan otentik.
Semua desain dirancang sendiri tanpa melibatkan arsitek maupun konsultan interior.
Di sini, pelanggan bahkan boleh menyeduh kopi sendiri.
“Dulu konsepnya open bar. Siapa pun yang ingin belajar nyeduh kita ajari step by step,” katanya.
Kopi yang digunakan seluruhnya arabika Temanggung. Sebagian berasal dari kebun pribadi dan sebagian dari petani sekitar lereng Sindoro-Sumbing.
Rifki menyebut, nyawa bisnisnya justru ada di kebun, bukan di kedai.
"Kalau kebunnya rusak, yang kita presentasikan juga enggak maksimal,” imbuhnya.
Meski kapasitasnya hanya sekitar 30 orang, At Sundara justru nyaman untuk nongkrong lama.
Ada rak buku kecil, alunan musik pelan, dan pemandangan orang berladang dari kejauhan.
“Konsepnya kayak rumah sendiri. Ngopi sambil baca buku, lihat gunung, lihat orang bertani. Hal-hal kecil kayak gitu ternyata menyenangkan,” kata Rifki.
Tak sedikit pelanggan yang datang dari luar kota.
Sekitar 80 persen pengunjung berasal dari Semarang dan Jogja. Sisanya dari Magelang, Wonosobo, hingga Temanggung sendiri.
Menu favorit di sini antara lain filter coffee, dirty latte, cappuccino, hingga magic.
Untuk dessert, cheesecake dan banana bread jadi andalan. Harga minuman cukup ramah kantong, mulai Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu.
Rifki mengaku tak terlalu mengejar keuntungan besar dari kedai ini.
Baginya, At Sundara lebih sebagai ruang berkumpul lintas komunitas.
“Harapannya ini jadi wadah bersama. Penulis, musisi, barista, siapa pun bisa berkarya di sini,” ujarnya.
Nama Sundara diambil dari penyebutan lama Gunung Sindoro oleh warga sekitar.
Namun bagi Rifki, nama itu juga punya filosofi sederhana, yaitu pelan tapi pasti.
“Tagline-nya slow but sure. Alon-alon asal kelakon,” tandas Rifki. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo