RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Di tengah menjamurnya tempat makan modern, Warung Pojok Kebon di Kelurahan Madureso, Temanggung, justru menawarkan pengalaman berbeda.
Pengunjung makan langsung di pawon dengan aroma kayu bakar yang menguar pekat. Bukan sekadar soal rasa, tetapi tentang suasana dan kenangan masa lalu.
Begitu masuk, pengunjung tidak disuguhi daftar menu digital atau pelayan yang mencatat pesanan.
Sebaliknya, mereka dipersilakan menuju dapur tradisional. Tentunya, untuk mengambil nasi dan lauk sendiri dari kuali besar yang masih mengepul di atas tungku.
“Masaknya di warung ini ya di pawon, pakai kayu bakar. Penyajiannya juga ambil sendiri atau konsep prasmanan. Jadi pelanggan bisa ambil sepuasnya,” ujar pemilik warung, Suryanto.
Konsep ini membuat pengunjung serasa pulang kampung. Suasana hangat dapur, kayu yang menyala, serta wangi rempah menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan di restoran modern.
Suryanto menyebut di warungnya, menu yang paling diburu adalah opor entok. Di dapurnya, daging entok yang dikenal alot, diolah hingga empat jam di atas tungku kayu bakar. Proses panjang itu membuat teksturnya empuk dan mudah dipotong.
Tak heran, jika opor entok di Warung Pojok Kebon Temanggung ini, kerap didatangi pejabat pemerintah, maupun wisatawan yang singgah.
"Pelanggan rata-rata pejabat atau pegawai pemerintahan. Ada juga wisatawan dari Jogja, Semarang, hingga Jakarta, yang rela datang untuk makan di sini," jelas pria 60 tahun ini.
Selain entok, tersedia ayam kampung yang dimasak dua jam. Menu lainnya, empis-empis tahu, serta sayur lompong yang dipercaya baik untuk membantu mengurangi kolesterol.
“Bumbunya rempah-rempah asli, tanpa micin. Saya sendiri yang meracik,” kata Suryanto.
Dalam sehari, warung ini menghabiskan 5-7 ekor entok dan 10 ekor ayam kampung.
Mayoritas pelanggan berasal dari kalangan pegawai, namun tak sedikit pula tamu dari luar kota seperti Semarang dan Jogjakarta yang datang karena penasaran dengan konsep uniknya.
Warung Pojok Kebon berdiri pada akhir 2020, saat pandemi Covid-19 mulai melonggar. Suryanto yang semula ingin membuka menu kalkun, akhirnya memilih entok karena bahan bakunya lebih mudah diperoleh.
Keputusan itu ternyata tepat. Perlahan, warung sederhana ini dikenal luas sebagai tempat makan dengan konsep balik ke dapur.
Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Paket opor entok dibanderol Rp47.500 sudah termasuk nasi dan minum, sedangkan paket ayam kampung Rp45.000 lengkap dengan sayur dan lalapan. Warung buka mulai pukul 08.30 hingga 17.00.
Di tengah udara sejuk Temanggung, makan opor entok hangat langsung dari pawon bukan semata mengisi perut.
Namun menjadi perjalanan kecil menuju masa lalu yang sederhana, hangat, dan penuh rasa. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo