RADARMAGELANG.ID, Mungkid – Di tengah banyaknya usaha rumahan yang tumbuh dan tenggelam, UMKM Rengginang Bu Yatin tetap bertahan menjadi salah satu produk khas yang digemari masyarakat.
Berdiri sejak tahun 1996, usaha ini berawal dari dapur sederhana milik Bu Yatin, yang kala itu hanya bermodalkan niat kuat untuk menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil.
Awalnya, produksi hanya sekitar 2-4 kilogram per hari dan dijual dengan cara dititipkan ke warung-warung sekitar. Tak jarang hasilnya tidak menentu, kadang habis terjual, kadang tak laku.
Namun berkat kegigihannya, kini UMKM Rengginang Bu Yatin berhasil mengembangkan usahanya dengan memproduksi 60-100 kilogram rengginang setiap harinya.
Rengginang yang diproduksi terbuat dari beras ketan khusus yang berkualitas tinggi.
Proses pembuatan dimulai dengan merendam beras ketan selama dua hingga tiga jam untuk mendapatkan tekstur yang pas, kemudian dikukus selama sekitar 20 menit hingga mengeluarkan asap yang menandakan kematangannya.
Bumbu tradisional juga menjadi komponen penting yang membuat rengginang ini berbeda dengan yang lain terdiri dari terasi, garam, dan bawang putih yang dihaluskan, dicampur dengan air panas sebagai pengganti santan.
Setelah bumbu tercampur rata dengan ketan kukus, adonan kembali dikukus hingga matang dan dibentuk menjadi dua varian: bulat yang dikenal dengan nama lato-lato, dan pipih yang dikenal dengan piringan atau mangkokan menggunakan alat cetak khusus.
Produk yang sudah berbentuk mentah tersebut kemudian dipanggang selama satu setengah jam, sebelum dijemur selama dua hari di bawah sinar matahari untuk memastikan rengginang menjadi sangat kering dan dapat digoreng dengan tekstur yang renyah.
Proses pengeringan ini juga penting untuk mencegah jamur dan memperpanjang masa simpan produk.
Keunggulan kualitas inilah yang membuat produk rengginang ini dicari dan tahan bertahan hingga kini.
Setelah digoreng, rengginang siap dikemas dan dipasarkan, dengan kemasan berbentuk bulat dijual seharga Rp15.000 dan bentuk piringan seharga Rp25.000.
Keunikan rengginang Bu Yatin tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tapi juga pada variasi rasanya yang khas.
Rengginang bentuk bulat memiliki rasa terasi yang menggugah selera, sementara bentuk pipih ditawarkan dengan dua varian rasa, yakni gurih dan manis, sehingga setiap pelanggan dapat merasakan sensasi yang berbeda dari masing-masing varian.
Tidak dapat dipungkiri, masa pandemi COVID-19 yang melanda dunia membawa tantangan besar bagi berbagai pengusaha kecil, termasuk para pelaku usaha rengginang di sekitar kawasan ini.
Banyak usaha rengginang lain yang terpaksa gulung tikar, namun UMKM Rengginang Bu Yatin mampu bertahan meski sempat mengalami masa-masa sulit dan perjuangan yang jatuh bangun.
Salah satu titik terang muncul dari kerja sama yang terjalin antara pemerintah desa dan pihak penyedia layanan wisata VW Borobudur, di mana para tamu yang tidak dapat masuk ke candi karena pembatasan kuota diarahkan untuk berkunjung ke sejumlah UMKM, termasuk Rengginang Bu Yatin.
Hal ini menjadi berkah tersendiri bagi para pekerja yang ada di UMKM Rengginang Bu Yatin.
“Alhamdulillah sangat-sangat mendukung ya, menambah pemasukan, dan meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar Mudayati.
Kegiatan wisata edukasi ini pun berlangsung setiap hari dengan jumlah karyawan yang bervariasi, di mana pada hari biasa mereka mempekerjakan sekitar 8 hingga 10 orang, sedangkan di akhir pekan bisa sampai 24 orang karena padatnya kunjungan wisata.
Para pengunjung tidak hanya dapat menyaksikan proses pembuatan rengginang secara langsung, tetapi juga berkesempatan mengikuti praktek pembuatan rengginang yang menjadi pengalaman edukasi yang menarik dan interaktif.
Tidak hanya itu, di lokasi UMKM juga disediakan berbagai minuman dan cemilan gratis sebagai wujud keramahan dan kenyamanan pengunjung yang ingin bersantai sambil menikmati suasana serta proses pembuatan rengginang.
Pemasaran produk dilakukan secara konvensional melalui toko di lokasi UMKM serta digital melalui platform Shopee, memperluas jangkauan pemasaran dan memudahkan konsumen dari berbagai daerah untuk mendapatkan produk autentik ini.
Ramainya pengunjung biasanya terjadi saat akhir pekan atau hari libur besar seperti Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, dengan para tamu datang dari berbagai kalangan mulai keluarga hingga instansi dan mahasiswa.
Bahkan, pada masa sebelum pandemi, produk rengginang ini pernah diekspor hingga mencapai 3-4 ton setahun ke Jeddah, Arab Saudi, khususnya pada musim haji.
Namun pandemi memutus komunikasi dan kontrak ekspor tersebut, sehingga fokus kembali ke pasar lokal dan domestik.
Kendala utama yang dihadapi selama proses produksi berkaitan dengan musim hujan yang menghalangi penjemuran rengginang di bawah sinar matahari. Untuk mengatasi hal tersebut, usaha ini mulai menggunakan oven sebagai alat alternatif pengering rengginang agar produksi tetap berjalan.
Di balik semua usaha dan perjuangan yang dilakukan, terselip harapan besar agar produk mereka dapat dikenal lebih luas lagi oleh masyarakat.
“Harapan kami ya, semoga rengginang Bu Yatin bisa dikenal masyarakat lebih luas lagi, jadi makin banyak tamu yang datang dan berbelanja. Dengan begitu bisa menambah pemasukan kami dan mendukung perkembangan UMKM ini,” ucap Mudayati penuh harap.
UMKM Rengginang Bu Yatin berlokasi di Dusun Tinggal Wetan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. UMKM ini tidak hanya menjaga tradisi dan cita rasa kuliner lokal, tetapi juga menjadi pilar ekonomi keluarga serta komunitas di sekitarnya. (nailah sekar abhinaya w/frisca nur febrista)
Editor : H. Arif Riyanto