RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Terletak di sebuah gang sempit di kawasan pusat kota Temanggung, sebuah warung sederhana namun menjadi magnet para pecinta kuliner. Namanya Soto Kwali Armasta.
Soto Kwali Armasta berada di Jalan Dr Cipto Mangunkusumo nomor 101, Batan, Temanggung 1, Kabupaten Temanggung. Meski tanpa papan nama mencolok, warung ini justru jadi buah bibir karena rasa khas dan harga yang ramah di kantong.
Warung soto ini berdiri 1 Januari 2010. Berawal dari kegemaran Heri Handoko, sang pemilik, menjelajah Jawa Timur saat anak-anaknya sekolah di sana.
Di sela perjalanan, ia menemukan soto kwali yang membuatnya jatuh hati. Merasa belum ada di Temanggung, Heri nekat belajar langsung ke penjualnya, hingga akhirnya ia membawa pulang resep itu dan membuka usaha di tanah kelahirannya.
"Saya belajar langsung, dikasih resep, dan akhirnya saya buka di rumah sendiri ini. Dulu sempat jualan di pinggir jalan, tapi saya pikir daripada rumah kosong, saya tempati saja," ujar pria 49 tahun, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (8/8/2025).
Sesuai namanya, soto kwali dimasak menggunakan kwali (kuali tanah liat) dan arang. Itu memberikan aroma dan rasa otentik yang sulit ditandingi. Kuahnya bening, segar, dengan potongan daging sapi empuk sebagai isi utama.
Terlebih, banyak menu pendamping seperti aneka sate, tahu, tempe krispi, hingga perkedel.
Yang membuat pelanggan makin betah, bukan hanya soal rasa. Tapi juga suasana tenang di dalam gang yang jauh dari bising dan debu jalan raya.
"Banyak pengunjung bilang, lebih asyik di dalam gang. Lebih nyaman katanya," kata Heri sambil tersenyum.
Tak hanya itu, kejutan lainnya dari Soto Kwali ini, adalah harganya yang ramah di kantong.
Untuk porsi kecil hanya Rp 3.000, porsi besar Rp 5.000, dan porsi jumbo Rp 10.000. Harga itu tak berubah banyak sejak pertama kali buka pada 2010 silam.
"Saya tidak bermaksud mematikan pasaran harga penjual lainnya, tapi bagi kami, harga segitu sudah cukup. Anak saya bisa kuliah, keluarga cukup. Dan saya sudah dapat untung" beber bapak dua anak ini.
Dalam sehari, Heri bisa menghabiskan hingga tiga kwali besar. Jumlah porsi tidak bisa dihitung rinci, karena ia dengan senang melayani pelanggan.
Ia dibantu istrinya, Lusi, yang bertugas di dapur menggoreng tempe krispi. Selain itu, terdapat dua karyawan yang melayani pelanggan. Biasanya, warung soto ini buka dari pukul 07.00 hingga pukul 13.00. Namun, sering kali pukul 11.00 sudah ludes.
Adapun pelanggan warungnya beragam. Mulai dari ASN, perawat, tentara dari Kodim, hingga masyarakat umum.
Bahkan, wakil bupati Temanggung dan jajaran pejabat lainnya pernah mampir untuk sarapan di warung soto milik Heri.
Pada pukul 09.00 pagi saat yang ramai pelanggan. Untuk akhir pekan dan musim liburan, pengunjung berdatangan dari luar kota dan luar provinsi. Banyak yang mengaku heran dengan harga yang sangat terjangkau.
"Biasanya yang dari luar kota itu kaget. Harganya murah banget, katanya. Sampai ada yang pernah minta saya buat mengulangi harganya hingga tiga kali," ujar Heri yang akrab Pak Ndut oleh pelanggan.
Tak hanya itu, saat wartawan ini ingin membayar soto yang disantap, juga kaget dengan harga yang disampaikan. Wartawan ini memesan tiga tempe krispi, semangkuk soto, dan beberapa sate serta teh hangat, dengan harga Rp 14.500.
Meski belum berniat membuka cabang, Heri tak keberatan jika ada orang yang ingin belajar langsung ke tempatnya.
Beberapa temannya bahkan sudah membuka usaha serupa di Jogja dan Grabag, Magelang.
"Rencana buka cabang belum tahu ya. Tapi kalau yang jualan sendiri minta bumbu di sini itu udah ada. Di Jogja lalu Grabag Magelang, jadi saya rasa gak usah buka franchise biar teman-teman belajar resep saja. Karena dengan hasil ini saya sudah merasa cukup,” tambah Heri. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo