RADARMAGELANG.ID, Magelang - Sate kere adalah makanan khas Solo. Dulu makanan ini adalah makanan kaum miskin alias kere. Karena mereka tidak mampu membeli daging sehingga menggantinya dengan tempe gembus.
Ternyata kuliner khas Solo ini ada di Magelang. Bahkan sudah tiga puluh tahun dan menjadi kuliner legendaris. Lokasinya di depan Indomaret, samping Rumah Sakit Harapan Kota Magelang.
Penjualnya, Sumarni, yang mangkal mulai siang hingga sore. Ia tidak hanya menjual sate kere alias sate gembus, tapi ada juga sate kikil, sate ayam, sate sapi, kronyos dan sate kulit.
Sate-sate tersebut dibakar menggunakan arang yang kemudian diberi bumbu sate khasnya.
Tidak lupa juga ditambah irisan bawang merah, cabai, dan kecap yang ada disate pada umumnya.
Harganya, per tusuk mulai dari seribu rupiah. Sumarni yang dikenal ramah, biasa jualan sendiri tepat di depan Indomaret samping Rumah Sakit Harapan Kota Magelang.
Namun saat ini tempat yang biasa untuk berjualan sedang direnovasi, sehingga harus pindah.
Sumarni hanya pindah di seberang indomaret saja. Rencana ke depannya ia akan memakai gerobak dagang jika renovasinya sudah selesai.
Setiap jam setengah dua siang, ia dibantu tetangganya mendorong gerobak angkut membawa bahan-bahan dagangan. Jarak rumah ke tempat ia berdagang tidak jauh, hanya di belakangnya.
"Biasanya dibantu tetangga pakai gerobak. Kalau yang nusukin sate-satenya biasanya anak di rumah," kata Sumarni kepada Jawa Pos Radar Magelang, (18/1/2025).
Semua bahan ia buat sendiri, kecuali ketupat. Ketupat yang dia pakai beli ke pedagang di pasar.
Sudah sejak lama ia jualan. Pelanggannya sangat banyak. Salah satu adalah Eni yang menjadi pelanggan setianya.
Hampir setiap hari Eni ke lapak sate kere Sumarni untuk membeli.
"Rasanya itu enak, jos sip. Suka kangen sama rasanya, kangen sama bakule juga hehehe," tutur Eni sembari tertawa.
Dia tidak pernah menghitung berapa tusuk yang dijual.
Sumarni hanya membeli bahan dalam jumlah kilogram yang kemudia dijadikan sate sampai bahan habis.
Jam 19.00 malam biasanya dagangannya sudah habis, dan dia bisa segera pulang. Terkadang sampai jam 21.00. (mg3/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo