RADARMAGELANG.ID, Magelang – Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang mengambil langkah progresif untuk memperkuat daya tarik wisata daerah.
Pihaknya mengajak seluruh pelaku industri pariwisata untuk mengembangkan konsep wisata ramah muslim.
Kepala Disporapar Kota Magelang Imam Baihaqi menjelaskan, langkah strategis itu ditempuh untuk merespons tren global dan tingginya kebutuhan wisatawan muslim. Menurut Imam, wisatawan muslim baik domestik maupun mancanegara mendambakan kenyamanan saat berlibur.
“Kenyamanan itu tidak melulu dari fasilitas tempat ibadah yang layak, makanan yang halal, tapi juga etika sosialnya,” terang Imam kepada Jawa Pos Radar Magelang, Kamis (1/10/2026).
Dalam hal etika, kriteria tersebut dapat dinilai dari tenaga pramuwisata yang berpakaian sopan sesuai dengan nilai kearifan lokal masyarakat. “Jika tidak berjilbab, maka harus mengenakan busana yang sopan, dan bertutur yang santun,” imbuhnya.
Sedangkan dari sisi fasilitas yang lain, di antaranya memiliki tempat wudhu yang terpisah dengan toilet, memiliki toilet yang bersih dan memenuhi standar kesehatan, memiliki tanda petunjuk arah tempat ibadah, menyediakan jasa makanan dan minuman yang bersertifikat halal, memberikan alternatif aktivitas seni dan budaya yang tidak mengarah pada pornoaksi dan kemusyrikan, hingga menyediakan pilihan pembayaran nontunai melalui perbankan syariah.
Imam menyebut, sejumlah negara telah mengembangkan pariwisata ramah muslim. Di antaranya, Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, Hong Kong, Korea Selatan.
Data Madosi Jateng menunjukkan bahwa terdapat 11.654 usaha pariwisata di Jawa Tengah. Jumlah itu terdiri dari berbagai jenis usaha pariwisata, mulai dari daya tarik wisata (DTW), kawasan pariwisata, transportasi, perjalanan wisata, makanan dan minuman, jasa pramuwisata, hingga wisata tirta dan spa.
Jawa Tengah termasuk daerah yang dikunjungi wisman. Setidaknya ada lima negara dengan kunjungan wisman tertinggi di Jawa Tengah. Yakni, USA, Malaysia, Tiongkok, Kanada, Inggris.
Karena itu, Imam menilai penguatan pariwisata ramah muslim harus ditingkatkan untuk menangkap peluang-peluang yang ada. “Inti dari pariwisata ramah muslim adalah seperangkat layanan tambahan pada aspek amenitas, atraksi, dan aksesbilitas yang disediakan untuk memenuhi pengalaman, kebutuhan, dan keinginan wisata muslim,” tandasnya. (put)
Editor : H. Arif Riyanto