Menurut data UPT Pasar Gotong Royong, total kios keseluruhan ada 171, dan yang tidak ditempati sebanyak 67 kios.
Sementara untuk los keseluruhan ada 860, dan yang tidak ditempati sebanyak 228 los.
Kepala UPT Pasar Gotong Royong Budi Waluyo menjelaskan, kios yang tercatat tidak beroperasi itu sebagian besar bukan benar-benar tutup, melainkan dialihfungsikan menjadi gudang penyimpanan barang oleh pedagang.
"Sebenarnya tutupnya itu bukan tutup, tapi dibuat gudang. Jadi, mereka memanfaatkan itu cuma untuk simpanan," katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Selasa (29/9/2026).
Pedagang buah Qoirul Rozikin yang sudah berjualan di Pasar Gotong Royong selama 28 tahun mengungkapkan hal yang sama.
Puluhan kios yang kosong, terutama di bagian belakang.
“Puluhan kios tutup. Di bagian belakang itu tutup semua, terbengkalai, orang pada keluar," ujarnya.
Menurutnya, hal ini disebabkan karena tempatnya yang kumuh, akses tempatnya yang kurang mendukung, serta ukuran kios yang kecil.
“Ya, dikarenakan kiosnya itu nggak mendukung untuk jualan. Kan pengunjung itu kalau tempatnya nyaman pasti mau. Nyaman gimana? Wong kiosnya terlalu kecil, akses jalan itu sempit, kurang nyaman, kotor,” ungkapnya.
Budi Waluyo menambahkan, Pasar Gotong Royong belum bisa direhabilitasi karena masih terikat perjanjian dengan pihak ketiga yang melarikan diri dari tanggung jawab sejak dibangun pada 2008.
Pasar baru bisa diperbaiki penuh setelah masa hak guna bangunan (HGB) berakhir pada 2028 dan diambil alih Pemkot Magelang.
Ia menambahkan, pasar ini ramai di jam-jam tertentu, karena bergantian antara kios yang buka siang dan malam.
Kios di bagian belakang yang menjual onderdil buka siang hingga sore, sementara kios grosiran sayur ramai mulai malam hingga pagi.
"Ramainya justru di malam hari sampai pagi, puncaknya jam 03.00 sampai 07.30," ujarnya.
Untuk retribusi kios per meternya Rp3.500, los Rp800, dan pelataran Rp500 per hari tergantung ukuran, ditambah biaya kebersihan Rp1.500 per hari.
Pasar Gotong Royong dikenal sebagai pasar grosir yang menjual sayuran, buah-buahan, serta kebutuhan pokok atau sembako dan terdapat kios khusus onderdil di bagian belakang pasar.
Pasar ini berstatus kelas dua dan merupakan pasar terbesar kedua di Kota Magelang setelah Pasar Rejowinangun. (mg5/mg4/aro)
Editor : H. Arif Riyanto