RADARMAGELANG.ID, Magelang--Browncafies Snack and Bakery merupakan salah satu UMKM yang berada di lingkungan SMK Negeri 3 Magelang.
UMKM ini berdiri sejak 2019 yang tidak hanya menjadi tempat produksi dan penjualan roti, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran bagi siswa jurusan tata boga atau kuliner.
Dalam pengelolaannya, Browncafies melibatkan pengelola dan siswa jurusan kuliner.
Seluruh siswa kelas X dan XI jurusan kuliner mendapat kesempatan mengikuti kegiatan tersebut.
Sementara itu, siswa yang rajin dan memiliki kemampuan lebih saat menjalani piket dapat dipilih menjadi bagian dari tim.
Tim siswa tersebut akan mendapat tanggung jawab lebih untuk membantu pengelolaan Browncafies ketika tidak ada jadwal piket reguler.
Sistem piket dilakukan secara bergiliran setiap minggu.
Dalam satu hari, terdapat empat siswa yang bertugas, terdiri atas dua siswa tim dan dua siswa yang mendapat jadwal piket.
Kegiatan tersebut berlangsung dari Senin hingga Jumat untuk membantu proses produksi.
Desy Hafidah, salah satu pengelola Browncafies mengatakan, usaha ini sejak awal memang dibuat untuk mendukung pembelajaran siswa.
Sehingga, selain mendapat pembelajaran praktik di kelas, siswa juga dapat merasakan pengalaman bekerja melalui di Browncafies.
“Tujuannya untuk pembelajaran siswa. Jadi, siswa ada penugasan piket di sini, biar siswa juga ada pembelajaran lebih selain praktik,” ujar Afi --sapaan akrabnya.
Browncafies menyediakan berbagai macam roti.
Antara lain, roti coklat, keju, dan sosis.
Selain itu, terdapat produk favorit yaitu boy dan pisang mini.
Harganya pun relatif terjangkau, hanya Rp3.000 hingga Rp5.000 karena usaha tersebut berada di lingkungan sekolah dan ditunjukan untuk mendukung pembelajaran siswa.
Dalam sehari, Browncafies memperoleh omzet Rp500.000 hingga Rp800.000. Keuntungan usaha tersebut disetorkan kepada pihak sekolah dan sebagian hasilnya digunakan kembali untuk kebutuhan Browncafies, termasuk penambahan peralatan produksi.
Saat ini, Browncafies juga menerima pesanan dari luar lingkungan sekolah.
Produk yang awalnya hanya dikenal di lingkungan sekolah, kini mulai dikenal oleh masyarakat luas.
Afi mengaku pernah mendapat pesanan kue kering hingga Jakarta.
“Kalau kue basah biasanya masih di area Magelang. Kalau kue kering kita pernah kirim sampai Jakarta,” akunya.
Dalam pengelolaannya, Afi mengaku tak lepas adanya kendala.
Sebab, siswa yang bertugas terus berganti dan kemampuan siswa dalam membuat produk pun berbeda-beda.
Sehingga ia perlu memberikan arahan dan mengajarkan kembali dasar-dasar pembuatan roti kepada siswa yang baru mendapat jadwal piket.
“Setiap minggu anaknya beda. Namanya anak, pembelajaran kan pasti belum punya basic soal bikin roti, jadi saya harus mengajari dan mengulangi dari awal cara-caranya gitu sih,” ungkapnya.
Siswa kelas X kuliner 2 yang mengikuti kegiatan piket Muahammad Neyotama Langit Mahardika mengaku, mendapat banyak ilmu dan pengetahuan selama belajar di Browncafies, terutama mengenai pastry bakery dan frozen food.
“Kalau sekarang, kayaknya saya lebih suka di sini, karena saya jadi lebih berkembang, dapat ilmu pastry bakery dari Mbak Afi. Terus diajarin frozen food juga,” ujar Langit --sapaan akrabnya.
Keberadaan Brownvafies diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi proses pembelajaran siswa, tetapi juga semakin dikenal masyarakat.
Sehingga, produk yang dihasilkan dapat menjangkau konsumen lebih luas sekaligus memberikan pengalaman bagi siswa sebagai bekal sebelum memasuki dunia kerja. (mg7/mg4/aro)
Editor : H. Arif Riyanto